Jakarta, sinarberita|Sebagian generasi milenial memang masih terkesan ‘asing’ dengan tanaman Sorghum, disamping pertimbangan kebiasaan pola makanIindonesia yang didominasi oleh beras, jagung dan sagu. Bagi orang dahulu, dikatakan, sorghum telah ditanam dan dikenal di Indonesia sejak lama.
Hal itu dijelaskan oleh pegiat Sorghum Nanang Sharna dalam bincang-bincangnya di Kantor pusat LasKar Ampera ARH 66 di kawasan Menteng Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.
“Orang jawa menyebut sorghum dengan nama Cantel atau Gandrung, sedangkan di Nusa Tenggara sorghum disebut dengan nama Sela atau Dela. Sorghum itu adalah biji-bijian serealia, berbentuk tanaman dan tingginya seperti tanaman jagung,” papar Nanang.
Ia menyebutkan, konon sorghum berasal dari Afrika, dan di Amerika Sorghum digunakan menjadi pakan ternak dan bahan bakar.

“Di negara bagian Maryland, sorghum diolah layakanya tepung gandum. Namun, sorghum sedikit diminati, karena tidak adanya kandungan gluten, layaknya pada tepung terigu yang tinggi kandungan gluten, dimana kandungan gluten ini menjamin elasitisitas pada adonan mie dan roti.
Ditambahkan oleh figur nyentrik dan seorang fashion designer ini, sorghum juga bisa dimasak layaknya beras, dijadikan sorghum goreng, bubur, dan sup sorghum.
Disebutkan, tanaman sorghum merupakan tanaman yang kuat terhadap serangan hama dan kekeringan, serta memiliki toleransi tinggi terhadap keadaan dan kondisi Tanah.

“Tanaman ini (sorghum) sangat cocok menjadi sumber pangan alternatif disamping kandungan gizi di dalamnya. Saya mengajak milenial, akademisi, para ahli maupun pegiat pangan kususnya, melakukan rekayasa teknologi pangan, dalam mendukung program pemerintah mewujudkan ketahanan pangan,” tegas Nanang.
Nanang juga mengungkapkan, terdapat 115 varian pangan yang telah dikelolanya dengan menggunakan bahan sorghum selain nasi, dalam bentuk sup, mie, syrup, gula, spageti dan jenis lainnya.
Edited By: Arto







