SINAR-BERITA.com|* Pagi menyeringai tanpa suara. Aku terbangun masih terlalu dini, pukul 03 lewat sedikit. Aku tak bisa melanjutkan tidur karena fikiranku langsung mengingat orang-orang terdekatku, terutama Tuhan, yang selalu kujadikan patokan nafasku kendati aku sering kecewa. Kulirik sekitar tempatku tidur bersama istriku, masih ada setengah gelas minumanku yang ku doktrin sebagai ‘penghantar tidur alias obat tidur’. Aku tak lagi lakukan hal-hal lalu, menjadikan minum alkohol sebagai identitas.
Aku terduduk, melihat kiri dan kanan, hanya ada lampu redup. Televisi telah dimatikan istriku. Itu selalu jika dia melihat aku telah lelap. Kulihat dan kudengar istriku pulas sambil mengorok dengan mulut menganga. Huh, itu kebiasaan dia. Kepalaku spontan giring fikiranku kepada masalah yang betul-betul kualami. Aku sedih, aku tersinggung pada Tuhan tetapi hatiku cuma sedikit protes, karena aku kenal dalam hatiku, hanya Dia yang Perkasa.
Aku melipat tangan dan menuntut, Tuhan yang baik, Engkau tetap Baik. Kenapa KAU lakukan hal ini kepadaku? Itu bathinku. Aku selalu protes pada Nya, tetapi aku tak pernah tinggalkan DIA. Meski aku pernah berwajah lain, aku berdoa pada Nya, Tuhan, aku cuma ingin belajar beroleh jawaban.
Kuratapi hidupku. Aku diberi dua orang putra yang ganteng-ganteng dan baik. Kenapa aku mesti bersedih, fikirku. Kuingat Bungsu ku, kuingat Sulung ku, kulirik istriku yang mulutnya mangap dan ngorok pula, aku bingung, dan bertanya kepada Tuhan, kenapa dia ngorok, padahal aku pengen? Entahlah.
Aku bangkit dan duduk di kursi seraya berugumam, Tuhan, beri aku tidur. Jangan biarkan pagi ini hati ku yang remuk, kuingat lagi. Kasihanilah aku, Tuhan.
Aku lalu bersyukur, oh ya, si FS pastilah lebih hina dari aku, dengan dada membusung dan memiliki kuota elit di tubuh Polri, eeeh nista pisan di kursi pesakitan. Ga lama, TM yang congkaknya sedemikian rupa, dagang sabu…..busyeeeet!!
Ada lagi, Mario Dandy aniaya orang berlatar harta ‘bokapnya’ yang pegawai, gajihan pajak, sama dengan Sambo dan temen-temen nya yang ‘Orang Gajihan’, nampang kaya n have?
Yang layak nampang kaya n have itu cuma Pengusaha. Orang Gajihan kog ga punya urat malu menampakkan bahwa dia Kaya, dan terkesan jorok? Orang gajihan, gitu loh?! Kalau Pengusaha Nampang, yah wajar karena dia menampakkan hasil usahanya yang pasti dia peroleh dengan memutar pemikiran bersama keringat dan airmata. Lah kalo orang gajihan nampang kaya, ya Pasti hasil mencuri atau menipu Tuhan , wong gaji dia sudah tentu Nominalnya. Bersambung.
By: Richard Aritonang







