SINAR-BERITA.COM, SAANA – Gerakan Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangkaian ledakan, termasuk ledakan didekat depot perusahaan minyak ADNOC serta Bandara yang melanda ibu kota Uni Emirat Arab (UEA) Abu Dhabi, Senin (17/1/2022), memicu pasukan koaliasi Arab yang dipimpin Arab Saudi mulai membom ibu kota Yaman, Sanaa sebagai tanggapan atas serangan yang dilakukan Houthi di Uni Emirat Arab (UEA).
Demikian dilaporkan Sky News Arabia, Selasa (18/1/2022). Menurut pernyataan dari koalisi, serangan udara dimulai sebagai tanggapan terhadap ancaman dan kebutuhan militer. Serangan itu juga dikatakan menargetkan pemimpin teroris.
“Angkatan udara koalisi sedang melakukan operasi sepanjang waktu di langit Sanaa. Kami mendesak warga sipil untuk menjauh dari kamp militer dan pertemuan Houthi untuk keselamatan mereka,” papar pernyataan itu.
Serangan pesawat F-15 dikatakan telah menghancurkan dua peluncur rudal balistik yang digunakan pada Senin (17/1/2022) untuk Saluran TV Yaman Al-Masirah yang dimiliki pemberontak Houthi melaporkan, empat orang tewas dan lima terluka akibat serangan koalisi Arab.
Sebelumnya, Minggu (2/1/2022), koalisi Arab mengancam akan menggunakan kekuatan jika Houthi tidak segera membebaskan kapal Cargo berbendera UEA yang dibajak dikota pelabuhan barat Yaman, Hodeidah. Koalisi menjelaskan, kapal itu tengah mengangkut peralatan medis dari pulau terpencil Socota di Yaman ke pelabuhan Jazan di Arab Saudi ketika Houthi bersenjata menyerangnya.
“Milisi teroris Houthi akan bertanggung jawab penuh akibat dari tindakan kriminal pembajakan terhadap kapal, yang jelas melanggar Hukum Humaniter Internasional Manual San Remo tentang Konflik Bersenjata di Laut, dan Konvensi PBB tentang Hukum Laut,” ungkap juru bicara pasukan Koalisi Arab Brigadir Jenderal Turki Al-Maliki, dilansir Saudi Press Agency. (red/inf)







