JAKARTA, sinar-berita.com |*Etika dan Budaya Politik bangsa saat ini sudah dalam posisi merendahkan martabat bangsa Indonesia, dengan mengedepankan berbagai kepentingan individu, kelompok, bahkan partai politik, dengan melakukuan kriminalisasi demokrasi.
Untuk mempertahankan martabat bangsa yang berdaulat, maka perlu menjunjung tinggi peran dan fungsi serta kedudukan rakyat dalam kemandiriannya, menegakan etika dan budaya khususnya di kelembagaan politik rakyat, dimana lembaga tersebut, sebagai pembuatan aturan, pengawasan dan menetapkan anggaran bagi pembangunan.
- Hal itu dikemukakan oleh Robertho Manurung dalam an opinion pressrelease nya melalui whatsApp yang diterima oleh sinar-berita.com, Jumat (4/11/2022). Tokoh Sosial politik yang telah lama berkecimpung dalam sospol di Kesatuan Bangsa & Politik (Kesbangpol) Jakarta ini mengemukakan, kelembagaan masyarakat tertinggi, yang kita sebut dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), bersama harapan yang penuh, agar dapat meningkatkan eksistensinya atas keberadaannya dimana rakyat sebagai pemegang kedaulatan bangsa.
Dikatakan Robertho, sosok pimpinan DPR sudah saatnya memiliki kredibilitas sebagai bapak bangsa, sehingga dapat mengayomi dan melindungi rakyat. Sosok yg pantas untuk duduk sebagai pimpinan rakyat dilembaga tinggi rakyat adalah Prabowo Subianto. Elektabilitas secara Etika dan Budaya Politik, sosok Prabowo Subianto sebagai Ketua DPR RI untuk jabatan tahun 2024-2029, amatlah tepat.
“Marilah kita dukung, terlebih negara yg kita cintai ini tengah menghadapi erosi pesimistis akibat kemerosotan nilai-nilai kebangsaan terlebih menghadapi persaingan dunia dialam globalisasi yang sarat dengan penguasaan ekonomi liberal dan tantangan penguasaan negara oleh negara asing melalui ancaman proxy war,” tegas Robertho.
Sosok Robertho, yang digelari ‘dukun politik’ ini juga menegaskan, agar pemikiran ini dikumandangkan pada saat kita akan menghadapi pemilu serentak 2024, dimana sosok Prabowo sebagai bapak bangsa, dapat duduk sebagai Ketua DPR RI berdasarkan hasil musyawarah bersama para elit partai politik. [richard arto]







