JAKARTA, sinar-berita.com |* L’Oréal Indonesia kembali menggelar kegiatan L’Oréal-UNESCO For Women in Science merayakan dan mendukung kiprah para perempuan peneliti Indonesia di bidang sains. Tahun ini, empat perempuan yang masing-masing berhasil memenangkan pendanaan riset senilai Rp100.000.000. Mereka adalah Novalia Pishesha Ph.D. (Harvard University), Nurhasni Hasan, Ph.D Apt (Universitas Hasanuddin), Rindia Maharani Putri Ph.D. (Insitut Teknologi Bandung) dan Anastasia Wheni Indrianingsih Ph.D. (Badan Riset dan Inovasi Nasional).
Acara inagurasi tersebut diselenggarakan secara virtual pada Kamis (10/11), bertepatan dengan hari Pahlawan Nasional dan World Science Day for Peace and Development untuk merayakan pentingnya peranan ilmuwan dan dunia ilmu pengetahuan bagi kemajuan bangsa.
Setiap tahunnya, melalui program For Women in Science, L’Oréal melihat begitu banyak perempuan peneliti dengan kemampuan luar biasa yang berada di garis depan penelitian, namun tetap masih ada kesenjangan gender global yang signifikan di semua bidang ilmiah. Pada 2021, UNESCO mencatat bahwa persentase perempuan peneliti di dunia hanyalah 33,3 persen.
Sementara di Indonesia, menurut Survei Angkatan Kerja Nasional 2020, hanya 3 dari 10 perempuan Indonesia yang berkarir di bidang sains, teknologi, teknik dan matematika (STEM).

Oleh karena itu kita Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia Untuk UNESCO (KNIU) Kementerian Pendidikan Riset & Teknologi RI Dr Itje Chodidjah MA mengatakan, perlu memupuk minat generasi muda sedini mungkin.
“Minimnya jumlah perempuan peneliti di Indonesia salah satunya juga disebabkan oleh penurunan jumlah perempuan yang menempuh pendidikan tinggi. Data Statistik Pendidikan Tinggi 2020 Kemendikbud mencatat bahwa jumlah perempuan yang menempuh pendidikan tinggi terus menurun signifikan pada setiap jenjang. Jumlah mahasiswi Strata 1 adalah 897.731, Strata 2 60.906 dan tersisa 5.245 mahasiswi pada jenjang Strata 3. Dengan kata lain, drop rate jumlah mahasiswi dari Strata 1 ke Strata 3 adalah sekitar 99,4 persen,” paparnya.
Tidak hanya itu, menurut Itje, perempuan yang berkarir di dunia sains pun masih menghadapi berbagai rintangan seperti gender bias, diskriminasi hingga kekerasan seksual yang masih terus berlangsung hingga saat ini. Namun semua hal itu tidak menghentikan mereka. Para perempuan peneliti terus membuktikan peranan penting mereka dalam berbagai bidang penelitian.
Corporate Responsibility Director L’Oreal Indonesia Fikrie Alhabsie memaparkan, sejak 2004, L’Oréal Indonesia juga telah bermitra dengan KNIU dan berbagai asosiasi serta komunitas ilmiah untuk mendukung lebih banyak lagi perempuan peneliti berprestasi agar dapat ikut serta secara setara dalam memecahkan berbagai permasalahan, khususnya yang terjadi di Indonesia.
“Melalui program ini, kami mengajak mereka yang percaya pada kesetaraan untuk bergabung bersama kami dalam meningkatkan kesadaran akan tantangan yang dihadapi oleh perempuan peneliti,” kata Fikri. [Shanty Rd]







