Jakarta, SINAR-BERITA.com|* PT Rintis Sejahtera (Jaringan PRIMA) berkolaborasi dengan Bank BCA menggelar Media Gathering dengan berbagai jurnalis lintas media, di Brewekz, Senayan City Mall Jl. Asia Afrika No.19 RT 01/3 Gelora Kec. Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (8 Maret 202).
Rektor Universitas Pradita sekaligus Pakar Teknologi Informatika, Prof. Eko Indrajit, tampil sebagai moderator di sharing session bertema ‘Tolak dengan Anggun Penipuan Online Bermodus Social Engineering’ itu.
Direktur Marketing PT Rintis Sejahtera Suryono Hidayat mengatakan, sengaja diangkat tema ini karena masih banyaknya kasus penipuan online bermodus social engineering. Dengan adanya media gathering ini, informasi penting mengenai kejahatan online bisa disebarluaskan oleh media kepada masyarakat seperti, modus-modus terbaru dan tips agar terhindar dari social engineering.
“Sebagai pelaku di industri sistem pembayaran, Jaringan PRIMA dan BCA merasa memiliki tanggungjawab untuk memberikan literasi dan edukasi bagi nasabah terkait pentingnya menjaga kerahasiaan data.” ujar Suryono.
Executive Vice President PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Wani Sabu dalam pemaparannya menjelaskan bahwa saat ini beragam modus terbaru dari social engineering terus bermunculan.
Tindak kejahatan social engineering (soceng) kerap terjadi, dan trennya diperkirakan meningkat jelang Ramadan dan Idul Fitri.

Bagi yang belum tahu, rekayasa sosial atau social engineering adalah penipuan yang memanipulasi psikologis korban agar bersedia membocorkan data pribadi, yang pada umumnya menyasar dan mengincar nasabah perbankan.
Dia mengungkapkan, berdasarkan tren tahunan, pada 2021 penipuan soceng meningkat karena penipu memanfaatkan situasi pandemi Covid-19, dan pada 2022 sedikit menurun dan hingga kini masih dalam posisi menurun.
Namun, dia memprediksi saat menjelang lebaran tren kejahatan soceng ini akan meningkat karena penipu memanfaatkan antusiasme masyarakat yang banyak mengeluarkan uang untuk kebutuhan Hari Raya Idul Fitri.
“Jadi kalau kita lihat, ada masanya kapan dia meningkat. Nah kalau menjelang lebaran, itu memang tingkat kejahatannya untuk social engineering itu meningkat,” ucapnya.
Dia menjelaskan jelang lebaran atau hari besar keagamaan lainnya, masyarakat cenderung akan lebih banyak mengeluarkan uang untuk membeli sepatu, pakaian, handphone, kue lebaran, hingga mobil baru untuk mudik lebaran.
“Ada kirim link undangan nikah, ada juga informasi mengenai penutupan fasilitas. Itu harus hati-hati karena link-link tersebut adalah sumber penipuan-penipuan,” ujar Wani Sabu, yang juga Ketua Komite Kerja Cyber Security Perbanas di Perbanas.

Wani Sabu menambahkan, dalam sehari, muncul hingga 30 akun palsu dan 1.500 pengaduan pengaduan dari nasabah per bulan, terkait penipuan social engineering dengan mengatas namakan Bank BCA yang berusaha menjebak para korban. Ada beberapa kasus penipuan diantaranya tertipu entah transfer ke bank lain, entah transfer ke e-commerce.
Dalam hal ini BCA dibantu Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), aktif melakukan take down terhadap akun-akun palsu tersebut.
Masyarakat diminta untuk berhati-hati dalam menjaga kerahasiaan data. Jika terdapat informasi yang mencurigakan, nasabah BCA dihimbau untuk melakukan konfirmasi dengan menghubungi Halo BCA di nomor 1500888. [S.A16]







