Jakarta, SINAR-BERITA.com|* Pernah mendengar nama tokoh Batak, Sati Nasution dan Todung Sutan Gunung Mulia Harahap? Mungkin banyak yang tidak tahu atas kiprah kedua nama atau tokoh tersebut. Padahal, keduanya termasuk Pionir Pendiri Pendidikan dan mengabdikan hidup mereka bagi perkembangan dunia pendidikan di Indonesia.
Sati Nasution (Willem Iskander Nasution), setelah mengenyam pendidikan di Belanda tahun 1862, mendirikan sekolah Guru pertama di Tano Bato, Mandailing Natal Sumatera Utara, 60 tahun sebelum Taman Siswa didirikan pada tahun 1922 di Yogyakarta oleh Ki Hajar Dewantara.
Tokoh berikutnya adalah Todung Sutan Mulia Harahap Menteri Pengajaran periode 1945-1946, setelah Ki Hajar Dewantara yang turut meletakan dasar pendidikan di Indonesia. Todung juga pendiri Dewan Gereja Indonesia (DGI) pendiri Universitas Kristen Indonesia (UKI), dan salah satu pendiri Partai Kristen Indonesia.
Karena itulah, dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional, Batak Center menggelar diskusi kelompok terpumpum atau Focus Group Discussion (FGD) dengan topik Pemikiran, Sati Nasution dan Todung Sutan Gunung Mulia Harahap Dalam Lintasan Sejarah Demi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, yang berlangsung di Sekertariat Batak Center, Jakarta Jumat (5/5/2023).
Diskusi menghadirkan pemantik ST.Sularto yang merupakan penulis buku, Inspirasi Kebangsaan dari Ruang Kelas, yang didalamnya menulis bahwa Sati Nasution atau Willem Iskander sudah mendirikan sekolah Guru Bumi Putera (Kweekschool) tahun 1862 di desa Tanobato Penyabungan Selatan, Madina.
Pemantik kedua yakni, Imran Hasibuan penulis buku Todung Sutan Gunung Mulia, menerangkan, Indonesia dengan hati dan akal budi, Gunung Mulia Menteri Pengajaran RI 1946.
Diskusi dimoderatori Ferddy FM. Pandiangan dengan menghadirkan para penanggap yaitu Prof. Dr. Mompang Panggabean (Guru Besar ITB) dan Thekla Odelia Caramita Sitompul(Aktivis Generasi Melenial).

Ketua Panitia Jaya Tahoma Sirait mengatakan, dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional, Batak Center mengadakan diskusi mengupas kiprah dua tokoh Batak yang mengabdi pada dunia pendidikan, Sati Nasution dan Sutan Gunung Mulia, yang dalam catatan sejarah, kedua pionir pendidikan itu kurang mendapatkan apresiasi dan atensi baik dari orang -orang Batak maupun lembaga-lembaga pendidikan Pemerintah.
Menurutnya, hasil diskusi akan dirangkum dalam satu dokumen tulisan yang kelak diserahkan ke beberapa lembaga pendidikan, tokoh-tokoh marga Batak dan Budaya.
“Kiranya buah pikiran, kontribusi dan semangat juang kedua tokoh itu bisa menjadi teladan dan diterapkan bagi generasi muda. Tentu melalui hasil diskusi ini, bisa jadi pertimbangan bagi pemerintah untuk memberikan penghargaan Pahlawan Nasional kepada kedua tokoh ini,” harapnya. [Maria/Red]







