Karawang, SINAR-BERITA.com|* Tahun ini (2023) Perusahaan FMCG (fast moving consumer goods) Procter & Gamble yang populer disebut P&G bersama mitranya, Habitat for Humanity Indonesia (Habitat), kembali melanjutkan program ‘Making a House Making a Home’ nya, kali ini digelar di desa Wanakerta, kabupaten Karawang Jawa Barat.
Sebelumnya, P&G dan Habitat Humanity Indonesia telah merenovasi 77 rumah tinggal dan warung agar lebih layak huni di berbagai daerah mulai dari wilayah Jawa Barat, Jawa Timur hingga Sulawesi Tengah dan menuai respon positif dari masyarakat, dimana program Making a House Making a Home ini juga dilakukan di beberapa negara dimana P&G beroperasi.
Namun, dalam beberapa tahun beberapa tahun terakhir, program Making a House Making a Home telah berimprovisasi untuk dapat memberikan dampak luas bagi masyarakat setempat. Bukan hanya melakukan renovasi rumah dan warung secara fisik, namun, turut juga menggerakkan perekonomian lokal, dengan turut memberdayakan pemilik usaha mikro, melakukan pelatihan-pelatihan softskill, literasi financial, perencanaan keuangan, dan kiat-kiat untuk menciptakan ekonomi tangguh.
“Kami menyadari bahwa bangunan yang layak huni adalah salahsatu faktor penentu tingkat kesehatan, produktivitas, dan kualitas hidup masyarakat. Selain persoalan tempat hunian, kqami juga menyadari masih banyak pemilik usaha mikro yang mengalami kesulitan dalam mengembangkan usahanya. Sebagai wujudkonkret dan konsistensi P&G selaku force for growth and force for good, kami bekerjasama dengan Habitat for Humanity Indonesia dankomunitas lokal, kembali mengadakan program Making a House Making a Home tahun ke -7,” urai Presiden Direktur P&G Indonesia Saranathan Ramaswamy dalam keterangan persnya di desa Wanakerta, Karawang, Jumat (26/5/2023).
Lewat program ini, lanjut Saranathan, pihaknya tidak hanya memperbaiki fasilitas fisik warga, namun juga melengkapi mereka dengan kemampuan dan pengetahuan guna meningkatkan kesejahteraan mereka.
Dijelaskan, rumah tak layak huni (RTHL) adalah rumah yang tidak memenuhi persyaratan hunian yang nyaman dan aman serta tidak menyehatkan, justru akan membahayakan bagi penghuninya. Demikian juga warung yang dianggap tidak layak huni, yang beroperasi dengan ciri-ciri tidak memiliki pondasi, kurang mendapatkan pencahayaan alami, sirkulasi udara tidak baik, dan tidak tersuplai air bersih yang memenuhi standar serta sanitasi yang buruk. Kondisi inilah yang menjadi dukungan bahwa program Making a House Making a Home semakin penting untuk diselenggarakan.

Senior Operations Manager Habitat for Humanity Indonesia Rudi Nadaodam antusiasme yang tinggi karena memasuki tahun ke-7 bermitra dengan P&G Indonesia, Habitat for Humanity Indonesia kembali beroleh dukungan untuk kembali bergotong-royong dalam merenovasi rumah dan warung milik komunitas lokal, khususnya desa Wanakerta.
“Hal ini kami lakukan karena misi Habitat for Humanity Indonesia, sejalan dengan komitmen P&G dalam membangun masa depan keluarga Indonesia yang lebih baik,” tutur Rudi.
Ia menyatakan harapannya, kontribusi P&G ini dapat memberikan warna baru dalam menggerakkan perekonomian lokal, dan berkomitmen memberdayakan masyarakat lokal, melalui program Making a House Making a Home.
Kepala Desa Wanakerta kabupaten Karawang Jawa Barat Kanta Kurnia, mewakili masyarakat desa Wanakerta, mengungkapkan rasa terimakasihnya atas terlaksananya program Making a Home Making a House yang dilakukan oleh P&G bersama Habitat for Humanity Indonesia yang fokus pada pemberdayaan masyarakat lokal, khususnya pemilik usaha mikro.
“Khususnya kepada pemilik usaha mikro dan merevitalisasi rumah dan warung yang lebih layak, kami berharap bantuan ini dapat menjadi awal baru dan semangat bagi para warga desa kami untuk kembali bangkit dan pulih,” tutur Kanta Kurnia.
Iwan, seorang pemilik warung yang berdekatan dengan obyek warung yang sedang direvitalisasi oleh tim Habitat for Humanity Indonesia mengaku, turut senang dengan adanya program yang dilakukan oleh tim Habitat for Humanity Indonesia di Desa Wnakerta. Ia berpendapat, dengan adanya warung itu beroperasi pasca direvitalisasi, suasana sekitar akan menjadi ramai dan menggairahkan bursa perekonomian, khususnya perekonomian mikro.
“Saya mah ini bangun sendiri, yah begini dah. Tapi saya mah seneng adanya program itu (Making a House Making a Home), itu dibangun warung, biar rame, jadi saya nya ngga sendiri-ndirian, gitu. Rame dah jadi enak,” menanggapi. [Shanty Rd/pr]







