Jakarta, sinar–berita.com|Komunitas Atelir Ciremai gelar pekan budaya di galeri Atelir Ciremai dibilangan Rawamangun Jakarta Timur. Pekan Budaya berjudul De Rau dengan tema Sudah Bukan Berarti Selesai ini, di buka Jumat (20/10/2023), dan akan berlangsung satu pekan mendatang.

Kepada sinar–berita.com Public Relation Atelir Ciremai Fahmi menjelaskan, gelaran pekan budaya kali ini dipamerkan karya tunggal seniman lukis ekspresionis temporer Ridwan Rau Rau, yang menuangkan setiap sisi perasaannya atas setiap situasi disekelilingnya, khususnya suasana kota yang hiruk-pikuk dengan aktifitas warganya yang diwarnai dengan kemacetan di jalan-jalan raya, dan tingginya intensitas polusi.
“Selama sepekan ini, dipamerkan karya lukis Ridwan Rau Rau di galeri. Kita juga melakukan kegiatan-kegiatan lain seperti forum diskusi, seminar dan penampilan-penampilan musik, dan peluncuran buku,” tutur Fahmi.
Mengomentari karya-karya unik Ridwan Rau Rau, selaras kesibukan kota yang terasa cepat dan cepat, dimana semua tampak seperti berlomba untuk menggapai apa yang sedang dikejarnya, membuat setiap kita bahkan tak sempat untuk menghimpun kata tanya atas situasi sekitar yang akhirnya dituangkan didalam bentuk lukisan ekspresionis temporer, tanpa harus menyiapkan kanvas memadai ataupun kuas serta warna-warna pendukung yang memadai.

Karya-karya Ridwan Rau Rau tampak seadanya, menggambarkan spontanitas situasi sekitar, dan menuangkannya dalam bentuk lukisan diatas kanvas, kertas, bahkan karton bekas. Tampilan temporer yang terlihat dalam karya Rau, menggambarkan situasi sekitar pada saat-saat tertentu, dan langsung diekspresikan dalam bentuk lukisan dengan peralatan yang ada didepan mata, dan yang dapat diperoleh dalam waktu singkat, dimana nuansa point of view tertentu itu masih ada didalam kepala.
Ketika ditanya, apa yang lebih dahulu tersirat didalam benaknya ketika melihat atau berada dalam suasana tertentu seperti kemacetan di jalan raya di kota, Rau menegaskan yang tersirat adalah marah dan kesal karena tidak terima dengan keadaan saat itu.
“Marah dalam arti, kenapa macet dan klakson-klakson menggema. Namun, untuk mewujudkannya dalam bentuk perkataan serasa tak ada waktu, yang ada adalah mewujudkan ekspresi terhadap situasi sekitar, menjadi karya lukis seperti ini,” ungkap Rau.
Atelir Ciremai adalah suatu komunitas kalangan anak-anak muda pelajar dan memiliki banyak aspek konsep-konsep pemikiran, dimana setiap ide dan konsep tertentu didiskusikan dan diwujudkan dalam sebuah karya nyata.

“Atelir Cermai mewadahi teman-teman yang memiliki konsep sesuai kratifitas masing-masing seperti rupa, film, musik, dan teater. Dalam pekan ini juga kita melakukan forum dikusi, seminar serta peluncuran buku,” tutur Fahmi.
Edited By: Tjie Hanna Susanti







