JAKARTA, sinar-berita.com|* Setiap orang pasti punya impian dan cita-cita dalam melanjutkan jenjang pendidikan ketingkat yang lebih tinggi. Untuk melanjutkan studi ke jenjang Pascasarjana (S2) setelah S1 diharapkan dapat membuka peluang yang lebih luas. Sayangnya, masih banyak yang mengubur impian untuk bisa melanjutkan studi lanjut karena keterbatasan waktu.
Sebagai solusi, BINUS Business School memperkenalkan program studi barunya di Media Gathering pada hari Kamis (22/12/2022) di kampus BINUS Senayan, Jakarta.
Sebagai solusi, BINUS Business School memperkenalkan program RPL Track MM Executive untuk S2. RPL dalam media gathering di Kampus BINUS Senayan, Kamis (22/12/2022). Program ini dipelopori oleh alumni – alumni BINU, yang sudah menjabat lebih kurang lima tahun menjadi Manager di perusahaan tempat mereka bekerja

Hal ini dapat memudahkan orang yang ingin melanjutkan studi berbekal pengalaman kerja dan pendidikan non formal maupun informal. Karena bagi mereka yang sudah bekerja, bisa mengikuti program studi ini dihari Weekend Sabtu dan Minggu, dengan waktu belajar juga lebih cepat dari yang biasanya.
RPL atau Rekognisi Pembelajaran Lampau (Recognition of Prior Learning) merupakan suatu program belajar yang memungkinkan calon mahasiswa mentransfer pengalaman menjadi satuan kredit yang diakui oleh perguruan tinggi.
Katakanlah ia memiliki pengalaman kerja di sektor perbankan selama lima tahun. Kemudian pada tahun ke-6, ia berencana melanjutkan studi ke program S2 Manajemen Bisnis. Dengan RPL, pengalaman lima tahun tersebut akan dianggap sebagai satuan kredit semester (SKS) yang sudah dia ambil. Selanjutnya tinggal melengkapi SKS sesuai syarat kelulusan.
Apakah RPL telah diatur oleh Kemenristek?
RPL di Indonesia telah diakui dan regulasinya pun telah diatur oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemenristek) melalui Permendikbudristek Nomor 41 Tahun 2021 tentang Rekognisi Pembelajaran Lampau. RPL diselenggarakan dengan prinsip aksesibilitas, kesetaraan pengakuan, transparan, serta penjaminan mutu.
Dengan kata lain, program ini hadir untuk memberikan akses kesempatan belajar yang lebih luas dan inklusif. RPL juga merupakan bentuk ekuivalen karena menganggap bahwa pengalaman di luar bangku kuliah pun diakui sebagai muatan pendidikan.
RPL pada umumnya bertujuan untuk mendorong masyarakat Indonesia agar melanjutkan pendidikan dengan mengakui pendidikan yang telah mereka tempuh sebelumnya. Menariknya, pendidikan ini tidak harus melulu berupa pendidikan formal, tapi juga pendidikan informal atau non formal, bahkan pengalaman kerja.
Selanjutnya, calon mahasiswa akan melalui tahap penilaian dengan pihak perguruan tinggi yang menyelenggarakan program RPL. Tahapan inilah yang akan menilai seberapa besar kredit yang akan didapatkan oleh calon mahasiswa dari pengalaman kerja atau riwayat pendidikannya.
Jika dinyatakan lulus, maka bisa langsung mulai berkuliah sesuai jadwal dari perguruan tinggi yang dituju. Mahasiswa tidak perlu mengulang kuliah dari awal, tapi bisa langsung melanjutkan sesuai dengan kredit yang ia dapat dari pengalaman kerja atau riwayat pendidikannya.
Dekan BINUS Business School Master Program Dr Rini Setiowati menjelaskan, program RPL Track MM Executive menawarkan penyetaraan akademik atas pencapaian calon mahasiswa.
“Apabila ia memiliki pengalaman kerja atau telah mengikuti sejumlah sertifikasi yang termasuk dalam materi yang diakui, maka mereka dapat mengikuti program RPL ini untuk mendapatkan gelar Magister Manajemen (MM) dengan lebih efisien,” paparnya.
Program RPL Track MM Executive BINUS Business School mengajarkan sekaligus mengukur soft skills yang dibutuhkan untuk mencetak eksekutif manajemen yang andal, seperti strategic thinking, Speed-reading, hingga top executive presentation.

Sebagai bagian dari sekolah bisnis yang telah menerima akreditasi AACSB (Association to Advance Collegiate Schools of Business) dan berada di peringkat #201-250 dunia dan #37 Asia versi 9S Global MBA Rankings 2023, program MM Executive ini pun telah terafiliasi dengan institusi pendidikan global, seperti Harvard Business School yang menawarkan special course mengenai Microeconomics of Competitiveness.
Dalam memahami materi, mahasiswa akan diajak untuk mempelajari kasus global (dari sekolah bisnis top dunia seperti Harvard, Wharton, INSEAD, hingga MIT Sloan) serta kasus lokal (lebih dari 200 kasus Indonesia).
Dalam menunjang perkuliahan, tersedia fasilitas BINUS Business Innovation Lab dan BINUS Marketing Lab untuk menghasilkan ide dan rencana bisnis yang disruptif. Program ini pun telah mengadopsi metode Design Thinking Stanford University sejak tahun 2010.[Shanty Rd]







