JAKARTA, sinar-berita.com |* Sebagai ungkapan rasa syukur, Gema Production menggelar tasyakuran dan jumpa pers di bilangan Tebet, Jakarta Selatan,(02/11/2022) sekaligus memperkenalkan proyek terbarunya film Uti Deng Keke.
Produksi film Uti Deng Keke ini sempet tertunda kurang lebih dua tahun karena Covid-19, dan akhirnya akan segera tayang di bioskop-bioskop seluruh Indonesia pada akhir November 2022.
Uti Deng Keke ini berkisah tentang persahabatan anak-anak milenial yang memiliki perbedaan keyakinan agama, adat istiadat dan suku yang berbeda-beda. Perlahan, persahabatan mereka melahirkan benih cinta. Konflik terjadi dimana mereka juga harus mengutamakan cita-cita daripada cinta demi menggapai kesuksesan.

Uti Deng Keke termasuk film yang cukup unik dan berani, karena film ini berlatar belakang tentang sebuah kota di Gorontalo dan Minahasa, Sulawesi Utara, dimana Uti adalah sebutan buat anak lelaki yang berasal dari Gorontalo, sedangkan Keke adalah sebutan untuk anak perempuan cantik yang berasal dari Minahasa atau Manado.
Produser film Uti Deng Keke Billy Novel menerangkan, pesan dari film ini lebih mengutamakan kepentingan edukasi daripada unsur komersil, yang memperkenalkan keindahan suku, budaya dan adat istiadat didaerah di Indonesia seperti keindahan obyek wisata yang ada di Gorontalo.

“Memperkenalkan, sekaligus mengundang wisatawan asing tidak hanya mengetahui Bali, Medan, Jakarta saja, bahkan seluruh Indonesia banyak sekali obyek wisata termasuk di Sulawesi Utara dengan Bumi Gorontalo nya,” ” kata Billy Novel.
Billy juga menjelaskan, melalui film ini, wisatawan asing bisa melihat dan menikmati keindah alam serta objek wisata, keberagaman suku budaya dan adat-istiadat yang ada di Indonesia.
“Syuting ini pun sekaligus bertujuan agar para pemainnya dekat dan sudah seperti keluarga. Film ini direncanakan akan tayang di pengujung tahun ini,” kata Billy.
Executif Produser film Uti Deng Keke, Ko Hartono menambahkan, tadinya film ini hanya akan tayang di dua daerah saja yakni Manado dan Gorontalo. Namun karena film ini banyak di dukung oleh artis-artis nasional sekaligus tokoh-tokoh masyarakat, produser memutuskan untuk tayangkan di seluruh bioskop yang ada di Indonesia.
Hartono juga menjelaskan keterlibatan dirinya mendukung pembuatan film ini adalah mengangkat toleransi beragama dan persahabatan meskipun berbeda suku, agama, budaya dan adat-istiadat, didukung pengalaman pribadi Hartono di kampung halamannya di Kalimantan.

Ko Hartono juga mengungkapkan bahwa film ini juga diangkat dari kisah nyata yang diwarnai cerita konflik dan menguras airmata, sekaligus memberi edukasi tentang pentingnya toleransi dalam kehidupan sehari-hari, seperti adanya penggalan cerita meninggalnya salah satu keluarga beragama Islam, dimana proses pemandian, mengkafani sekaligus pemakamannya di bantu sepenuhnya oleh non-warga Nasrani atau Kristen.
“Inilah dasar utama saya, kenapa film ini wajib tayang dan ditonton oleh seluruh masyarakat Indonesia karena mengajarkan pentingnya hidup berdampingan dan toleransi beragama” cetus Ko Hartono.
Uti deng Keke mengkombinasikan sejumlah pemain film lokal dan yang sudah punya nama. Mereka adalah Gary Ishak, Roy Marten, Teguh Julianto, Mongol Stress, Addin Hidayat, Lana Victoria, Fannita Posumah, Rency Milano, Neta Gabrynev, Sheila Tampubolon, Maya Yuniar, dan Khayla Maharani.
[Shanty Rd]







