Jakarta, sinar berita|Sejak menyatakan Indonesia Darurat Beras, Laskar Ampera Arief Rachman Hakim Angkatan Enam Enam nampaknya serius untuk terus berjuang menindaklanjuti hasil rapat DPP pada bulan Juni 2024, untuk menjalankan dan mendorong percepatan program pertanian padi, dengan aktif mendampingi para petani di sawah dan membuka mata pemerintah, untuk segera terlibat memberi dukungan nyata mengingat kondisi yang dirasakan kian genting.
Dengan merangkul kelompok tani, universitas-universitas, media dan seluruh praktisi pertanian, Laskar Ampera Arief Rachman Hakim Angkatan Enam Enam akan memberikan bukti nyata bahwa menekan harga pokok produksi beras adalah solusi yang jauh lebih cerdas dan efektif dibanding kebijakan peningkatan impor beras, ditengah serapan pupuk baru menyentuh angka 32% dari total e-RDKK ditengah ancaman kelaparan.
Sekretaris Jenderal DPP Laskar Ampera ARH 66 Binsar Effendi Hutabarat – dalam rapat Kordinasi bersama para awak media di kantor DPP Laskar Ampera ARH Angkatan Enam Enam di Jakarta, Kamis (4/7/2024 – menegaskan, Laskar Ampera ARH 66, sejak tahun 2014, memberi dukungan penuh ditengah ancaman keamanan ketika itu, dan terus bergerak untuk mewujudkan percepatan program pertanian padi.
“Masih melekat dalam ingatan masyarakat Papua, ketika presiden Jokowi mengunjungi Yahukimo dengan pengamanan ekstra pada periode pertama kepemimpinanya bersama kementerian terkait, mendeklarasikan pemerataan pembangunan,” tutur Effendi, aktivis 1966 itu .
Terbukanya jalur distribusi saat itu, memupuk semangat masyarakat Papua membentuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Jayatolamaduya (Jaya Wijaya, Tolikara, Lany Jaya, Mamberamo, Nduga, Yalimo, Yahukimo) guna memaksimalkan potensi lahan pertanian mereka yang subur agar kebutuhan pangan mereka tidak lagi tergantung pada wilayah lain.

“Faktanya apa? Sekarang, hanya sebagian kecil petani di wilayah Wamena seperti Hurulu, Pike, Momi dan Moai yang terus berjuang menanam padi ditengah gempuran sektor pertambangan yang justru jadi isu sentral disana, saat ancaman kelaparan didepan mata! Itu disampaikan Menteri Pertanian langsung,” imbuhnya.
Ia menegaskan, saat ini adalah waktunya memaksimalkan lahan-lahan pertanian seperti ini diseluruh Indonesia, dengan meningkatkan produksi beras, dan menanamkan kepercayaan diri petani.
“Masyarakat Papua punya harapan besar dan mereka mendukung, kita juga harus mendukung mereka, bukan memelihara konflik dengan masyarakat adat seperti yang terjadi pada pembangunan dermaga Foley di Raja Ampat, dimana pelabuhan sudah jadi, kok masyarakat adat belum dapat haknya?,” tegasnya.[Arto]







