SINAR BERITA – Masyarakat religius menyukai simbol, slogan, dan berbagai bentuk komunikasi verbal seperti pidato, kotbah dan lain sebagainya. Itu sebabnya para pemimpin politik di masyarakat religius, suka bermain kata-kata, slogan dan simbol. Mereka serius dalam mengembangkan berbagai teknik komunikasi publik (public speaking).
Masyarakat religius tidak terlalu peduli pada prestasi dan kinerja. Perhatian masyarakat religius lebih mengarah pada kesamaan agama, slogan dan simbol politik yang merefleksikan keyakinan atau agamanya atau nasionalisme dalam arti yang sempit.
Dukungan Amerika Serikat (AS) kepada Israel, identik dengan nubuat kedatangan Yesus yang kedua kalinya, yang akan terjadi di Jerusalem, sehingga Jerusalem harus ada ditangan Yahudi atau Kristen, guna menyambut Yesus.
Hal ini diyakini oleh kelompok Ekstrim Kanan AS yang mendominasi partai Republik, sehingga konsep keagamaan semacam ini muncul dalam narasi politik modern, serta diyakini secara meluas di AS, negara maju yang multi Ras maupun Kultural dan adikuasa dunia.
Itulah sebabnya para pemimpin politik di masyarakat religius, jauh lebih sibuk dengan pencitraan diri, tampil sana tampil sini, sapa, senyum dan sedikit humor. Aktif di media sosial, dan rajin merangkai kata-kata.
Semua ini adalah tuntutan dan harapan dari masyarakat itu sendiri sehingga masyarakat merasa dekat, dan puas, lalu mengalirlah kata-kata ‘inilah pemimpin yang baik’.
Lalu bagaimana dengan kinerja, dan janji yang tak terpenuhi? Cukup buat alasan. Toh, masyarakat juga tidak peduli.
Masyarakat Tiongkok, umumnya pragmatis dan sekuler. Mereka fokus pada kinerja, prestasi, perilaku, dan karakter serta tidak peduli pada omongan.
Bagi orang Tiongkok, pemimpin harus memiliki kinerja yang sangat bagus, perilaku dan karakter yang terpuji, dan tidak perlu pintar dalam omong. Bahkan, penilaian kepada orang yang pintar omong cenderung negatif, misalnya; “Hanya penipu yang pandai omong”.
Ini menunjukkan bahwa masyarakat Tiongkok pada umumnya hanya yakin terhadap apa yang dilakukan, bukan pada apa yang dikatakan. Mereka tidak tertarik pada gagasan mulia keagamaan, namun lebih melihat perilaku umat beragama.
Mereka tidak tertarik pada pidato-pidato politik yang berisi janji-janji atau kuliah ideologi liberal, HAM, demokrasi, dan sebagainya, namun sangat peduli pada apa yang dilakukan pengkotbah atau tukang pidato itu.
Itulah sebabnya para pemimpin politik Tiongkok tidak mengembangkan kemampuan berpidato (public speaking), dan tidak peduli dengan pemberitaan negatif media Barat.
Karena umumnya masyarakat Tiongkok yakin bahwa akhirnya, dunia akan melihat realitas yang terjadi, sedangkan omongan dan tipuan akan lenyap.
Deng Xiaoping tidak lakukan seperti halnya Gorbachev, yang berpidato berapi-api bersama slogan-slogan ‘Perestroika! Glastnost’, tetapi menunjuk Xi Zhongxun, orang andalannya, untuk membuat proto-type atau model. Xi Zhongxun kemudian merancang dan memimpin sendiri Shenzhen dan sukses besar.
Shenzhen melesat cepat. Reformasi pun bergulir nyaman dan cepat di Tiongkok. Segenap lapisan rakyat yakin, keterbukaan akan membawa kemakmuran. Buktinya, lihat Shenzhen!
Deng Xiaoping tidak perlu pidato berapi-api, dan Xi Zhongxun yang pendiam itu tidak perlu kerepotan meyakinkan rakyatnya.
The Way Of Life bagi Tiongkok bukan pidato yang berapi-api tetapi orang yang berfikir, tekun, dan bertangan dingin menciptakan proto-type/model seperti Xi Zhongxun, yang sukses membangun Shenzhen.
Masyarakat kita di Indonesia sedang digiring ber metamorphosis mengarah ke simbol-simbol religius, berupaya menggeser karakteristik dasar kita yang adalah pekerja. Ini digambarkan oleh ramainya ujaran-ujaran bertopeng simbol religi.
Panggung-panggung hasut bermunculan, lontaran kebencian membahana. Perusahan unjukrasa bermunculan pula. Simbol-simbol religi diluncurkan dan dipastikan satu-satunya jalan menuju nirwana, dilakukan oleh sekelompok orang ‘tersekolah’, dalam suasana religi.
Karakteristik dasar kita warga Nusantara pada umumnya adalah kerja, karena hanya dilingkungan pekerja saja keberagaman dapat rukun dan saling memahami. Hal ini telah dibuktikan dengan masih utuhnya kita didalam bingkai negara kesatuan republik Indonesia (NKRI).
Namun, kemunculan para petualang berkedok religi yang hendak merongrong kesatuan kita didalam keberagaman, patut kita sadari dan waspadai.
Religius sebuah kata simbolis yang disematkan oleh seseorang terhadap orang lain maupun diri sendiri, dan cenderung menyesatkan. Karena religius bukan karya kerja yang berwujud phisik.
Dia hanya hasut (bicara) yang mengatasnamakan kebenaran hakiki, yaitu Tuhan. Banyak orang yang membutuhi kehidupannya atasnama penampakan religius, berakhir di persinggahan prodeo karena perbuatan memalukan.
Religius bukan perintah Tuhan. Kerja adalah bagian dari perintah Tuhan karena kerja melahirkan karya bukan kebencian.
Edited/Published by: Richard Aritonang







