Bandung, sinar–berita.com|Suasana GrhaKandaga Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor, Sumedang, tampak berbeda pada Jumat pagi, (22/8/2025).
Ratusan mahasiswa, dosen, dan alumni berkumpul dengan semangat yang sama: mengabdi bagi negeri. Hari itu, Menteri Transmigrasi Republik Indonesia M. Iftitah Sulaiman Suryanagara bersama Rektor Unpad Prof. Arief S. Kartasasmita, secara resmi melepas keberangkatan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Unpad 2025.
Sebanyak 57 tim dengan total 283 peserta dilepas untuk menjalankan misi riset dan pengabdian masyarakat di kawasan transmigrasi yang tersebar di enam pulau besar Indonesia: Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua. Para peserta bukan hanya mahasiswa aktif, melainkan juga dosen, peneliti, bahkan alumni baru. Selama empat bulan ke depan, mereka akan meneliti dan memetakan potensi wilayah—mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, hingga pariwisata—guna mendukung pembangunan berbasis data, bukan sekadar asumsi.
Kampus Harus Hadir untuk Rakyat
Dalam sambutannya, Menteri Iftitah menekankan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh berhenti pada teori. Menurutnya, kampus harus hadir di tengah masyarakat dan memberi manfaat nyata.
“Unpad memberi teladan bahwa kampus tidak boleh hanya menjadi menara gading. Mahasiswa harus turun ke sawah, ladang, dan lapangan, berbicara dengan rakyat. Ilmu harus menjadi senjata paling ampuh dalam pembangunan nasional,” ujar Menteri Iftitah.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa transmigrasi saat ini bukan lagi semata pemindahan penduduk. Program transmigrasi diarahkan untuk menciptakan industrialisasi berbasis potensi lokal. Sebelum mendatangkan transmigran, kesejahteraan masyarakat lokal harus dipastikan. Dalam konteks inilah, peran Tim Ekspedisi Patriot menjadi krusial, yakni menghadirkan data riset yang akurat untuk menjadi dasar kebijakan pembangunan.
Omar, Mahasiswa SAR yang Jadi Patriot Ilmu
Di antara ratusan peserta, terdapat sosok Omar, seorang mahasiswa Unpad yang sebelumnya aktif di Unit Searchand Rescue (SAR) Universitas Padjadjaran. Omar pernah menjabat sebagai ketua unit tersebut dan dikenal sebagai pribadi yang tangguh serta memiliki jiwa sosial tinggi. Kini, ia kembali mengemban misi pengabdian, bukan di medan bencana, melainkan di desa-desa transmigrasi di pelosok Nusantara.
Bagi Omar, bergabung dalam Ekspedisi Patriot adalah panggilan hati. Ia menuturkan bahwa motivasinya berangkat bukan semata karena petualangan, melainkan keinginan untuk mengamalkan semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Sebagai mahasiswa, saya belajar di kampus untuk memperkaya pengetahuan. Tapi ilmu tidak boleh berhenti di ruang kelas. Saya percaya Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah amanat moral yang harus dijalankan. Melalui Ekspedisi Patriot ini, saya ingin mengabdi, meneliti, dan berbagi ilmu langsung bersama masyarakat,” ujar Omar.
Dari Medan SAR ke Ladang Transmigrasi
Pengalaman Omar di Unit SAR Unpad membentuk karakternya. Bertahun-tahun ia terbiasa terjun ke medan sulit: mengevakuasi korban bencana, melatih kemampuan survival, hingga mengorganisir tim dalam situasi darurat. Kini, keahlian itu menjadi bekal berharga saat ia menghadapi tantangan di lapangan.
“Kami akan hidup bersama warga desa, berjalan di sawah dan ladang, membaca potensi tanah, air, dan pasar. Tidak hanya melihat, tetapi juga mendengarkan aspirasi masyarakat. Prinsipnya sama seperti di SAR: terjun langsung, hadir nyata, dan bekerja bersama tim,” tambahnya.
Omar menegaskan, pengabdian dalam ekspedisi ini adalah bentuk patriotisme baru. Jika di SAR ia menyelamatkan nyawa, maka dalam Ekspedisi Patriot ia berharap dapat menyelamatkan masa depan generasi dengan data riset yang bermanfaat bagi pembangunan nasional.
Riset dengan DroneMapping
Dalam wawancara di lokasi ekspedisi, Omar menjelaskan bahwa timnya akan menggunakan metode dronemapping dalam penelitian. Teknologi ini akan membantu tim menganalisis berbagai aspek penting kawasan transmigrasi, seperti struktur ruang wilayah, pemanfaatan lahan, rencana jaringan transportasi, pembangunan komoditas unggulan, hingga kesesuaian lahan untuk pertanian maupun industri lokal.
Ilmu dan keahlian ini bukanlah hal baru bagi Omar. Selama aktif di Unit SAR Unpad, ia telah banyak belajar tentang operasional drone untuk pencarian dan penyelamatan. Keahliannya sebagai pilot drone berlisensi menjadikannya terbiasa melakukan pemetaan udara dalam kondisi sulit, seperti bencana banjir atau gempa bumi. Kini, keterampilan itu ia terapkan kembali dalam konteks pembangunan.
“Dengan dronemapping, kami bisa mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai kondisi wilayah secara cepat dan akurat. Data ini akan sangat berguna bagi pemerintah dalam merancang kebijakan berbasis bukti nyata. Kami berharap metode ini dapat memperkuat hasil riset yang selama ini sering terhambat oleh keterbatasan data lapangan,” jelas Omar.
Ia kemudian menambahkan dengan nada penuh keyakinan, “Saya memilih dronemapping karena teknologi ini seperti mata tambahan bagi kami. Ia bisa melihat dari ketinggian apa yang tidak terlihat dari bawah. Dengan begitu, kami tidak hanya menebak potensi, tapi benar-benar membuktikannya dengan data. Inilah cara kami menghadirkan ilmu yang relevan untuk rakyat.”

Harapan untuk Negeri
Rektor Unpad, Prof. Arief S. Kartasasmita, menyampaikan kebanggaannya atas keikutsertaan sivitasakademika dalam program ini. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa, dosen, dan alumni dalam TEP adalah wujud nyata hilirisasi ilmu pengetahuan.
“Mudah-mudahan apa yang dilakukan ini dapat menjadi sumbangsih Unpad demi kemajuan negara. Program ini bukan hanya membantu pemerintah menyelesaikan permasalahan bangsa, tetapi juga memperkaya pengalaman akademik seluruh peserta,” ucap Rektor.
Sementara itu, Menteri Iftitah menutup dengan pesan penuh makna: “Berangkatlah sebagai patriot ilmu pengetahuan. Hadirkan inovasi dan harapan bagi bangsa. Ingat, senjata paling sakti untuk membangun negeri adalah ilmu pengetahuan.”
Menjadi Patriot Muda
Bagi Omar, pesan itu menjadi bekal moral dalam perjalanannya. Ia sadar bahwa tantangan di lapangan tidak mudah: kondisi geografis yang berat, keterbatasan infrastruktur, hingga beradaptasi dengan budaya lokal. Namun, dengan latar belakangnya di Unit SAR, ia yakin mampu melewatinya dengan semangat kebersamaan.
“Ini bukan sekadar perjalanan akademik. Ini adalah perjalanan hidup. Saya ingin pulang nanti membawa cerita, data, dan pengalaman yang bermanfaat, bukan hanya bagi saya, tapi juga bagi Unpad dan bangsa,” pungkas Omar dengan mata berbinar.
Keikutsertaan Omar dalam Ekspedisi Patriot 2025 mencerminkan wajah baru mahasiswa Indonesia: berani, peduli, dan berdedikasi. Dari kampus Jatinangor hingga desa-desa transmigrasi, kisah Omar adalah pengingat bahwa ilmu pengetahuan akan benar-benar bermakna ketika dijalankan dengan semangat pengabdian.[red*]







