Jakarta, S|B News.com|Dua siswa Binus School terlibat dalam proyek Portable Machine of Tempeh Making (mesin pengolah tempe). Teknologi ini dipamerkan di ajang Ars Electronica Festival 2023 di Gedung Postcity Linz Austria, 6-10 September 2023.
Portable Machine of Tempeh Making adalah proyek yang melibatkan dua siswa kelas 10 di BINUS School Simprug yaitu, Kenneth William Santoso dan Davrell Mylka Jowkins.
Kehadiran mereka di ajang internasional Ini juga didampingi guru BINUS School Ms. Savita sebagai Research Mentor serta Dr Rinda Hedwig sebagai Research Interest Group Leader, dan Marcel Saputra sebagai Research & Development Coordinator dari Computer Engineering BINUS University bersama Chef Trias Septyoari Putranto.
Kenneth William Santoso dan Davrell Mylka Jowkins memberikan penjelasan tentang bagaimana pengoperasian dari alat tersebut, dalam press conference yang digelar di BINUS School Simprug, Kamis (28/9/2023).
Ia menjelaskan bahwa konsep dibalik teknologi ini terhitung sederhana yakni, mengontrol semua proses pengolahan tempe, mulai dari tahap-tahap awal mencuci kedelai, merebus, hingga mengupas kulit dari biji kedelai.

“Langkah pertama mesin adalah merendam kedelai selama 6 jam sambil mesin berosilasi maju mundur untuk memastikan terpisahnya kulit dari biji. Kedua, mesin akan membuat air kedelai mencapai suhu mendidih. Ketiga mesin akan meningkatkan kecepatan putarannya untuk memastikan pemisahan sempurna antara kulit dan biji kedelai,” jelasnya.
Davrell menambahkan, mesin ini juga akan menambahkan ragi sebagai bahan dasar pengolahan kedelai menjadi tempe. Temperatur dari mesin ini pun menyesuaikan dengan suhu ruangan yang juga dilengkapi dengan sirkulasi udara agar dapat berfermentasi.
“Hasil dari proses yang sudah dikendalikan ini adalah terciptanya masakan tempe secara utuh. Mesin ini menjalankan seluruh proses mulai dari kedelai hingga tempe, sehingga menawarkan kualitas yang konsisten kepada konsumen dengan lebih sedikit pekerjaan,” lanjut Kenneth.
Rencananya, Portable Machine of Tempeh Making akan dipasarkan di negara-negara non-Asia kecuali Jepang, dengan tujuan mempromosikan makanan tradisional khas Indonesia kepada dunia.
Kepala Sekolah BINUS School Simprug Mr. Isaac Koh mengungkapkan bahwa setiap bakat dan minat dari siswa harus terus didukung agar bisa terus terasah, sehingga potensinya bisa berdampak
“Di sini kami percaya untuk terus mendorong siswa dalam menggali potensi dan bakatnya, dan kami jugmendukungnya melalui berbagai macam sumber yang dibutuhkan siswa untuk bisa mendapatkan hasil terbaik,” jelas Mr. Isaac.
Sebagai guru yang membimbing perjalanan Kenneth dan Davrell dalam proyek ini, Ms. Savita sangat bangga dengan kesempatan yang sudah diberikan pada Ars Electronica Festival 2023, terlebih lagi respon yang didapat juga sangat positif.
“Selama mengikuti pameran di Austria, respon yang kami dapat sangat luar biasa, terlihat bahwa banyak orang di Eropa yang sangat tertarik dengan teknologi pengolah tempe ini, mereka juga tampak suka dengan makanan-makanan olahan yang berasal dari tempe,” ungkap Ms. Savita.

KBRI/PTRI turut hadir dan memberikan dukungan kepada delegasi BINUS School Simprug yang sudah membawa nama Indonesia melalui teknologi ciptaannya.
Ars Electronica Festival merupakan pameran yang menggabungkan beberapa ilmu yaitu sains, bisnis, kreatifitas dan seni, serta kearifan lokal dari seluruh dunia.
BINUS School Education selalu memberikan dukungan penuh kepada siswanya yang ingin berkreasi dan menciptakan hal-hal baru, terutama dalam memberikan manfaat kepada masyarakat. [Shanty Rd]







