Sukabumi, sinar berita|Penurunan hasil panen pada setiap periodenya, tidak lepas dari efek penggunaan pupuk kimia yang meracuni tanah (lahan pertanian). Partikel pupuk kimia menyebabkan tanah secara evolutif menjadi mengeras. Sedangkan residu yang terkandung didalam pupuk kimia, mengembangkan virus dan patogen, yang menimbulkan jumlah hama yang secara periodik semakin membesar.
Hal itu dicetuskan oleh Hendrawan, penemu formula pupuk organik Penyempurnaan Pupuk Organik (P2O), dikediamannya di Sukabumi Jawa Barat, Selasa (20/8/2024).
Hendrawan menjelaskan, penggunaan pupuk kimia tanpa control yang akurat, lambatlaun menjadikan tanah mengeras, merusak batang dan akar tumbuhan, yang berimbas pada menurunnya kualitas dan kuantitas hasil pertanian maupun perkebunan.
Demikian pula penggunaan pertisida, insektisida dan sejenis lainnya untuk membunuh hama, memiliki peran penting dalam mengurangi kualitas dan kuantitas produksi pertanian dan perkebunan, karena hama dan pestisida yang membunuhnya tetap berada di tanah dan terserap oleh tanah

“Yang lebih spesifik lagi, merusak langsung, adalah herbisida yang digunakan untuk gulma. Jenis ini sangat berbahaya bagi tanaman karena dapat merusak daun bahkan akar tanaman. Dan, itu digunakan terus menerus untuk semua jenis tanaman seperti cabai, tomat, sawit, kopi, coklat dan sebagainya,” papar penemu pupuk tanaman ramah lingkungan itu.
Ia menuturkan, pestisida dan dan unsur lainnya, sama-sama merupakan racun bagi tumbuhan, terus digunakan sehingga mengakibatkan tanah tidak lagi segar karena telah terinfeksi racun-racun dari pupuk kimia, dan tanah itu sudah betul-betul rusak, ibarat penyakit, sudah stadium empat.
“Ibarat seorang atlet dalam keadaan sehat diberi doping, tentu akan lebih kencang, dan doping itu diberikan kembali pada setiap pertandingan. Demikian pula penggunaan pupuk kimia pada tumbuhan, yang tadinya satu botol untuk satu hektar lahan, supaya hasilnya lebih banyak, ditambah lagi menjadi dua botol, menjadikan tanah keracunan lambat laun,” jelasnya.
Hendrawan merefleksi, dipertengahan tahun 70-an hingga pertengahan tahun 80-an, Indonesia mengalami swasembada bahkan Surplus pangan, mengalahkan Thailand yang sebelumnya menduduki peringkat tertinggi soal produksi pangan.
Pada periode itulah, lanjut Hendrawan, pupuk kimia mulai diperkenalkan untuk digunakan petani di Indonesia. Namun kian hari, penggunaan pupuk kimia itu terkesan tidak dibarengi kontrol yang ketat guna keseimbangan dan toleransi penggunaan pupuk kimia terhadap tanah.
“Kita dapat melihat pada label kemasan-kemasan pupuk kimia yang menjanjikan hasil panen dapat mencapai 13 sampai 14 ton per hektare nya. Pada kenyataannya, paling tiga sampai maksimal empat ton per hektare nya,” jelasnya.

Pupuk Organik Ramah Lingkungan
Dalam bincang-bincangnya dengan media, Hendrawan mengisyaratkan agar petani mulai memperhatikan keberlangsungan tanah-tanah pertanian maupun perkebunan, dengan mulai membatasi penggunaan bahan-bahan kimia dalam upaya meningkatkan hasil-hasil pertanian dan perkebunan.
Ia menyebutkan, ketentuan Internasional (World Healt Organization/WHO), standar maksimal kandungan residu didalam bahan pangan maksimal hanya 30 sampai 40% saja. Sedangkan bahan pangan baik beras maupun buah-buahan yang diproduksi di Indonesia rata-rata memiliki 60 hingga 70% kandungan residu. Tidaklah heran jika banyak negara yang enggan mengimpor bahan makanan dari Indonesia seperti, Singapore dan beberapa negara lainnya.

Hendrawan juga memperkenalkan pupuk organik temuannya yang Ia namakan, Penyempurnaan Pupuk Organik atau P2O, yang Ia sebutkan mampu mengoptimalkan hasil-hasil pertanian secara nyata dan bahkan melakukan healing terhadap tanah-tanah pertanian dan perkebunan yang sudah terinfeksi dalam waktu panjang.
Pupuk Organik ini (P2O), memiliki kemampuan nyata mengoptimalkan hasil pertanian, menguatkan akar dan batang tanaman produktif, dengan prosesi sederhana serta biaya murah. Penggunaan P2O, menurut Hendrawan, sudah diterapkan di Abu Dhabi yang memiliki suhu rata-rata 42 derajat Celsius, dan mengasilkan buah yang bagus dan lebih banyak.

Sudah saatnya, pemerintah bergeming dan memberi perhatian serius terhadap aspek-aspek pertanian yang sejak lama menjadi kebanggaan dan merupakan kebutuhan primer bagi rakyat Indonesia khususnya, dan keberlangsungan hidup manusia pada umumnya, dengan menerapkan prosesi berkelanjutan khususnya dalam aspek pertanian dan perkebunan. Tidak berkutat dalam lingkaran komersil bisnis sesaat, menepis kelestarian alam, yang berimbas pada bermunculannya penyakit-penyakit baru didalam tubuh manusia yang mengkonsumsinya dan mencuatkan, dalam waktu dekat, Indonesia terancam mengalami Krisis pangan.
Edited By: Arto







