JAKARTA, sinar-berita.com |* Memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober 2022, Habitat for Humanity Indonesia mengadakan kegiatan 28uild (dibaca to build), dengan mengajak sekitar 300 relawan muda dari berbagai latar belakang, yang kebanyakan merupakan mahasiswa, pekerja, dan public figure.
Kegiatan 28uild merupakan kegiatan rutin tiap tahun yang dilakukan oleh Habitat sejak 2012 kecuali masa pandemi Covid-19 (2020 dan 2021). Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya untuk menyatukan semangat generasi muda dan melibatkan mereka secara langsung dalam pembangunan yaitu mengecat puluhan rumah dan sekolah di bilangan Mauk Tangerang, dan Gresik Surabaya.
Hal tersebut diharapkan meningkatkan kesadaran para generasi muda akan pentingnya tempat tinggal yang layak dan sehat, demi tercapainya kehidupan yang sejahtera bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Terhitung sampai saat ini, 28uild telah berhasil diikuti lebih dari 2,900 relawan dari beberapa kota, seperti Jakarta, Batam, Yogyakarta dan Surabaya.
Susanto, Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia menekankan, Kegiatan 28uild ini merupakan komitmen tiap tahun dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda dengan terus mendorong dan melibatkan generasi muda dalam mendukung pembangunan bangsa.
“Bangsa Indonesia ada tidak lepas dari kobaran semangat anak muda. Berfokus membangun negeri melalui pembangunan rumah layak huni bagi keluarga berpenghasilan rendah, Habitat ingin anak muda terlibat mulai dari bangun rumah. Kita tahu bahwa masih terdapat jutaan keluarga di Indonesia yang masih terus menderita dan berjuang tinggal di rumah yang tidak sepantasnya disebut tempat tinggal layak” tutur Susanto.
Salah satu relawan muda yang juga merupakan public figure, Daniel Mananta yang sudah beberapa kali turut dalam 28uild menceritakan, keterlibatannya bersama Habitat dinyatakan sedikit demi sedikit sebagai langkahnya membangun Indonesia menjadi lebih maju.

“Saya ikut kegiatan Habitat sudah sekitar empat atau lima tahun. Awalnya hati saya tersentuh karena mendengar bahwa mental anak-anak yang tinggal di rumah yang terbuat dari lantai tanah liat dan keramik itu beda. Mental anak-anak yang tumbuh di rumah yang berdinding dan beratap layak beda dengan yang berdinding bambu. Lain lagi kalau ada hewan yang kadang masuk ke ruang keluarga”, jelas Daniel.
Melalui kegiatan 28uild ini, Habitat bersama para relawan muda berhasil membangun 15 rumah, mengecat 32 rumah dandua sekolah dasar serta satu PAUD di Tangerang dan Gresik.
Kepala Desa Kedung Dalem, Suryadi menyampaikan bahwa Habitat sudah hadir di desa mereka sekitar 9 atau 10 tahun. Di satu kecamatan saja, terangnya, Habitat sudah membangun 230 unit rumah layak huni dan sekitar 700 sanitasi.
“Tidak hanya rumah, tetapi juga fasilitas seperti laboratorium komputer dan taman baca sampai ke tingkat RT yang bisa mendukung pendidikan anak-anak di desa kami. Habitat ini benar-benar mitra pemerintah untuk membangun Negara Indonesia”, tutur Suryadi.
Asiyah, warga Desa Kedung Dalem yang rumahnya dibangun mengatakan bahwa rumahnya menjadi layak huni dengan adanya bantuan dari Habitat for Humanity Indonesia di acara 28uild ini. Sebelumnya, rumahnya hanya terbuat dari bilik bambu.
“Dulu rumahnya bilik bambu. Kadang ular suka masuk. Seneng sekali alhamdulillah ada yang bantu”, kata Asiyah, ibu dari dua anak dan istri seorang buruh harian ini. [Shanty Rd]







