JAKARTA, sinar-berita.com | – Terlihat puluhan petani di Tangerang Utara menggeruduk kantor pengairan Balai Besar Ciliwung – Cisadane di jalan KS Tubun kota Tangerang, Rabu pagi sekitar pukul 10.00 WIB (3/8/2022).
Mereka mempertanyakan tanggungjawab dan fungsi pelayanan pihak kantor pengairan Balai besar Ciliwung- cisadane terkait pengaturan suplai air terhadap lingkungan sawah pertanian di wilayah Tangerang Utara.
Mereka menduga, pengaturan suplai air ke areal persawahan yang mereka kelola, dipicu oleh adanya kegiatan proyek normalisasi dan rehabilitasi oleh PT Indoteknik bernilai sekitar Rp102 milyar, yang mana sampai sekarang masih sedang dilakukan pekerjaan perbaikan pada saluran BCBL 7 di desa Gintung kecamatan Sukadiri, sehingga akses suplai air terganggu, hingga air pun tidak lagi mengalir ke sawah sawah milik petani.

Manager PT Indoteknik Eko mengatakan bahwa terkait proyek diwilayah TKP tersebut sudah hampir rampung, dan tinggal jelang finishing saja.
Menyinggung puing puing sisa kegiatan proyek, yang dituding para petani sebagai penyebab tidak mengalirnya air ke sawah mereka, Eko menyanggah dan menepis bahwa puing-puing sisa pekerjaan itu sebagai sumber persoalan, yang membendung aliran air.
“Tidak terbukti bahwa puing-puing sisa pekerjaan proyek yang menjadi penyebab mampetnya aliran air ke sawah warga. Jadi harus bagaimana lagi?” sahut Eko
Staf Kantor UPT Pengairan BBSWCC Asep, yang turut berada ditengah-tengah para petani Tangerang Utara itu menerangkan bahwa banyaknya intervensi dari pihak-pihak luar yang turut mengurusi pintu air, berdampak tidak maksimalnya petugas dalam melakukan kerjanya.
“Bagaimana anggota kami bisa bekerja maksimal menjaga pintu bila tidak dihargai tugasnya? Dan, banyaknya pihak luar yang sering intervensi dan ikut mengurus pintu air pada saluran BCBL 7, sangat mengganggu pengaturan suplai air ” tutur Asep.
Wartawan sinar berita mencoba lakukan konfirmasi perihal sengketa air tersebut pada pimpinan kantor pengairan balai besar Ciliwung-Cisadane di jalan KS Tubun kota Tangerang.
Namun, sangat disayangkan, pejabat kantor yang baru ini hanya mengandalkan pada solusi normatif yakni, ‘bagaimana baiknya saja, demi kebersamaan’, padahal konflik sengketa air tersebut butuh keberanian mengambil keputusan.
Diperoleh informasi, kepala pengairan balai besar Ciliwung-Cisadane yang baru ini, sangat diragukan leadership (kepemimpinan) nya diragukan. Bahkan, diketahui, dirinya melulu didalam ruang kerjanya, tanpa pernah terlihat melakukan inspeksi ke lapangan untuk sekadar melakukan sosialisasi.

Di sela-sela erumunan unjuk rasa, diperoleh informasi dari seorang petani yang baru saja keluar dari ruang rapat, bahwa para petani menuntut penghentian kegiatan proyek PT Indoteknik selama satu bulan untuk pemulihan air ke sawah- sawah sekitarnya.
“Kaum petani ingin proyek PT Indoteknik sementara ini berhenti dulu selama se bulan demi pemulihan aliran air untuk sawah sawah pertanian, dan itu akhirnya disepakati bersama” tuturnya kepada Sinar Berita.
Dengan demikian, apakah perjanjian para pihak itu tidak mengganggu komitmen kalender kerja keberlangsungan jadwal proyek, yang biasa terpampang di plang papan kegiatan proyek? [Cokih]







