Morowali,sinar–berita.com – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah Yusman Mahbub menyambut Tim Ekspedisi Patriot di Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Morowali, Senin (1/9/2025).
Pertemuan ini menjadi ruang untuk menegaskan kembali posisi Morowali sebagai salah satu motor penggerak perekonomian nasional melalui sektor industri.
Dalam sambutannya, Yusman mengingatkan bahwa Morowali memiliki sejarah panjang sebagai kawasan transmigrasi, yang pada awalnya merupakan areal pertanian seluas lebih dari 7.000 hektare. Pemerintah kemudian menetapkan Morowali sebagai salah satu dari 154 kawasan transmigrasi di Indonesia yang digagas Kementerian Transmigrasi.
Dari pijakan inilah, Morowali tumbuh dan berkembang menjadi daerah yang bertransformasi pesat hingga dikenal luas sebagai kawasan industri strategis.
“Dulunya, Morowali dikenal sebagai wilayah transmigrasi dengan sektor pertanian sebagai basis utama. Namun kini, Morowali telah menjelma menjadi kawasan industri terbesar di Indonesia,” ujar Yusman.
Pusat Industri Strategis
Dari 13 Kabupaten/Kota di provinsi Sulawesi Tengah, Morowali dinilai memiliki keunggulan lebih dibandingkan daerah lain. Keunggulan ini terutama terletak pada keberadaan enam kawasan industri yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN).
Kehadiran PSN menjadikan Morowali sebagai pusat kegiatan industri berskala besar sekaligus prioritas pembangunan nasional. Pemerintah pusat bahkan menargetkan nilai investasi di Morowali mencapai Rp145 triliun.
Target ini menunjukkan besarnya kepercayaan pemerintah dan investor terhadap potensi industri di kawasan tersebut.
“Morowali kini bukan sekadar nama kabupaten, melainkan telah menjadi ikon kawasan industri Indonesia. Kedepan, peran Morowali akan semakin strategis dalam menopang perekonomian nasional,” kata Yusman menambahkan.

Kontribusi Lokal dan Nasional
Transformasi Morowali dari kawasan transmigrasi menjadi pusat industri memberikan dampak langsung terhadap perekonomian, baik di tingkat lokal maupun nasional. Data pemerintah daerah mencatat, pertumbuhan ekonomi Morowali mencapai 16,24 persen, angka yang jauh di atas rata-rata pertumbuhan nasional.
Selain itu, kontribusi Morowali terhadap penerimaan negara tercatat sebesar Rp512 triliun. Jumlah ini menjadikan Morowali salah satu daerah penyumbang terbesar bagi kas negara.
Perkembangan kawasan industri juga mendorong mobilitas tenaga kerja. Setiap tahun, antara 12.000 hingga 15.000 orang datang ke Morowali untuk mencari peluang kerja di enam kawasan industri yang beroperasi. Fenomena ini menjadikan Morowali sebagai magnet baru bagi para pencari kerja dari berbagai daerah di Indonesia.
Dari Transmigrasi ke Lokomotif Industri
Yusman menekankan, perubahan besar yang terjadi di Morowali tidak bisa dilepaskan dari fondasi awal sebagai kawasan transmigrasi. Keberhasilan itu menjadi bukti nyata bahwa program transmigrasi dapat menjadi pintu masuk bagi pembangunan wilayah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Morowali bukan hanya bagian dari sejarah transmigrasi, tetapi juga telah menjelma sebagai lokomotif industri yang menopang ekonomi nasional. Inilah wajah baru Morowali yang membanggakan,” ucapnya.
Peran Ekspedisi Patriot
Dalam kesempatan yang sama, Tim Ekspedisi Patriot memaparkan rencana kerja mereka di Kabupaten Morowali. Prof Heru Susetyo, SH., L.LM., M.Si., M.Ag., Ph.D dari Universitas Indonesia menjelaskan bahwa tim penelitian dibagi ke dalam tiga kelompok dengan fokus berbeda: memetakan kawasan, mengkaji komoditas unggulan, serta meneliti kelembagaan perekonomian masyarakat.
Selain Prof Heru, ekspedisi ini juga dipimpin oleh dua ketua tim lainnya, yaitu Dr. Eka Purna Yudha, S.P., M.Si dan Dr. Sc. Yoga Andriana Sendjaja, S.T., M.Sc dari Universitas Padjadjaran. Kehadiran para akademisi lintas universitas ini diharapkan mampu memberikan masukan berbasis riset bagi pemerintah daerah maupun pusat.
“Melalui penelitian yang terfokus, kami ingin memastikan pengembangan Morowali berjalan seimbang antara kepentingan industri, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat,” kata Prof Heru.
Dengan kontribusi ekonomi yang besar dan dukungan kajian akademis, Morowali meneguhkan diri bukan hanya sebagai pusat industri, tetapi berpotensi sebagai laboratorium pembangunan berkelanjutan di Indonesia. [RF]







