Jakarta, SINAR-BERITA.com|* Memprihatinkan! Setidaknya kata itu yang tersembul dari benak khalayak khususnya insan pers di Indonesia, menyaksikan tindakan oknum wartawan yang meng-klaim diri sendiri sebagai senior didunia jurnalis tetapi melakukan hal yang samasekali tak pantas disebut jurnalis, menepis asas demokrasi yang semestinya dijunjung tinggi oleh seluruh insan pers didunia ini.
Hal itu dicetuskan oleh pengamat jurnalis Richard Aritonang yang ditemui di pelataran gedung Joeang’45 Jakarta, untuk menghadiri peringatan Hari Ulangtahun Ikatan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (IP-KI) Ke-69, Sabtu siang (20/5/2023), menyikapi pengangkatan Ketua Forwama yang berlangsung di gedung Joang’45 Sabtu pagi harinya.
“Saya tidak tau itu. Emangnya ada pengangkatan ketua Forwama di tempat ini tadi pagi?,” sahut Richard balik bertanya dengan nada heran.

Setelah dijelaskan oleh wartawan bahwa baru saja berlangsung pengangkatan ketua Forwama oleh belasan orang dengan memakai kaos warna gelap dengan Logo Mahkamah Agung terpampang besar dibagian depan.
“Memprihatinkan! Setau saya, wartawan di beberapa WAG wartawan liputan MA lebih dari 300 orang jumlahnya. Koq cuma belasan yang hadir? Itu melanggar Asas demokrasi, dan Ilegal karena jumlah wartawan yang saya cek di dua WAG (whattsAp group) wartawan MA, yang satu 87 peserta, dan satunya lagi 219 peserta. Kalau cuma belasan orang yang hadir, tentunya itu dapat dikatakan Illegal ya” kata Richard menanggapi.
Richard Aritonang menjelaskan, bahwa dirinya adalah salahsatu deklarator FORWAMA-RI (Forum Wartawan Mahkamah Agung Republik Indonesia) tahun 2017, ketika Ketua MA Dr Hatta Ali ketika itu. Ia menuturkan bahwa nama FORWAMA itu dibuat oleh seorang deklarator bernama Syamsul Bahri dibantu dirinya, yang menambahkan RI setelah FORWAMA.

“Itu sudah pasti Illegal karena nama FORWAMA itu dibuat oleh Bung Syamsul, dan kata RI, singkatan Republik Indonesia itu, saya yang usulkan. Jadilah FORWAMA-RI, WAG resmi MA namanya FORWAMA-RI serta adminnya semua adalah pihak MA. Dan oknum yang mengklaim dirinya sebagai Senior dan Ketua FORWAMA, jelas akan beroleh penolakan dan bisa dilaporkan ke pihak berwajib karena, selain menggunakan FORWAMA sebagai nama kelompoknya secara tanpa izin, kelompok itu juga menggunakan Logo MA sebagai logo mereka, mungkin juga tanpa izin. Mengenaskan,” ujar Richard Aritonang, yang juga Pemimpin Redaksi Sinar-Berita Group ini.
Richard menjelaskan, memang dirinya dan dua orang deklarator FORWAMA-RI 2017 menemui Kepala Biro Humas MA Dr Sobandi di MA April 2023 lalu. Dalam pertemuan itu, salahsatu deklarator Soegiharto Santoso alias Hoky mengemukakan niat untuk membentuk kepengurusan resmi FORWAMA yang sejak enam tahun lalu, belum jelas struktur kepengurusan dan program kerjanya.
Ia melanjutkan, menanggapi apa yang dikemukakan Hoky tentang pembentukan kepengurusan FORWAMA beroleh respon positif ketika itu. Richard menuturkan bahwa Kepala Biro Humas MA Dr Sobandi menyambut positif hal yang diajukan Hoky dan menyarankan agar dilakukan pemilihan dan prosesi secara terbuka dan demokratis serta mengadopsi seluruh aspirasi anggota nya.

“Sepekan kemudian, saya mengetik pernyataan kesediaan diri menjadi ketua Panitia Pembentukan Kepengurusan FORWAMA, yang seolah-olah ‘saya’ itu adalah saudara Jimmy Endey. Saya kirimlah chat pernyataan itu ke saudara Jimmy untuk diteruskan ke WAG yang ada. Tujuan saya, agar Kepengurusan FORWAMA segera terbentuk, dan saudara Jimmy mengatur mekanisme dan prosesinya secara Demokratis, sesuai arahan pak Sobandi. Jadi itu ketikan saya yang diteruskan oleh saudara Jimmy ke WAG, tanpa dirubah satu huruf pun” jelas Richard.
Namun, ditengah perjalanan setelah Panitia yang dipimpin Jimmy Endey terbentuk, tidak satupun program kerja panitia yang disodorkan ke WAG yang ada. Termasuk mekanisme dan jadwal prosesi pemilihan. Richard menjabarkan, ketika Heintje Mandagi mempertanyakan schedule kerja panitia, malah dikeluarkan dari WAG Kepanitiaan, dengan alasan menyinggung personal.
“Demikian juga saya, yang juga mempertanyakan program/schedule kerja panitia, dan menuntut agar Heintje Mandagie dikembalikan ke WAG seperti sediakala, juga dikeluarkan dari WAG Kepanitiaan. Disitulah saya berfikir bahwa terjadi penghianatan kepada insan pers oleh adanya ‘ambisi’ dari oknum ambisius untuk jadi Ketua FORWAMA. Mungkin dia berfikir, kalau dilakukan secara demokratis, dirinya akan jauh dari terpilih, dan ada hal buruk yang mungkin direncanakan mengatasnamakan FORWAMA. Itu yang terbersit dibenak saya,” tutur Richard seraya meneguk air mineral digenggamannya.
Namun, sosok penulis Cerpen dan penggila lagu-lagu rock khususnya Rolling Stones ini menyerukan agar ratusan teman-teman yang merasa terzhalimi akibat ulah seorang tua yang meng klaim diri senior dan melakukan tindakan yang jauh dari Halal itu, tetap tenang. Ia berjanji akan melakukan perbaikan terhadap internal jurnalisme dan segera membentuk Kepanitiaan Pembentukan Kepengurusan FORWAMA yang bekerja secara demokratis dan transparan, khususnya yang bertugas dilingkungan MA dan jajaran peradilan di seluruh Indonesia.

“Tekad jurnalis hanya satu, mengemukakan kebenaran dan menciptakan Harmonisasi dilingkungan dimana kita bekerja serta mencintai sesama hidup tanpa pandang golongan dan RAS. Jangan jadi jurnali kalau mau kaya, tidak ada rumusnya. Jangan memaksakan diri jadi jurnalis. Seorang jurnalis harus sudah kaya akan pengetahuan, netralitas, pemahaman universal dan mencintai sesama hidup, kendati dirinya harus menahan lapar dan sengsara. Profesi jurnalis adalah Mulia,” pesan Richard mengakhiri bincang-bincangnya.
Edited By: Tjie Hanna Susanti







