Morowali, sinar–berita.com – Tim Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali menggelar rapat koordinasi pada Selasa, 2 September 2025 di Kantor Bapelitbangda (Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah) Morowali. Pertemuan tersebut membahas usulan matriks Rencana Aksi Nasional Kawasan Integrasi Perencanaan Transmigrasi (RAN-KIPT) 2025–2030. Forum ini menjadi ruang untuk merumuskan strategi pembangunan di tengah laju industri yang semakin pesat di Morowali.

Dalam rencana tersebut, Transmigrasi Patriot ditetapkan sebagai salah satu prioritas nasional yang diharapkan mampu menjadi penggerak peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Program ini dipandang penting agar pertumbuhan ekonomi di daerah dapat sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kabupaten Morowali saat ini tercatat memiliki enam Proyek Strategis Nasional (PSN). Keberadaan PSN telah memberikan dampak positif berupa peningkatan pendapatan daerah serta terbukanya lapangan kerja dalam jumlah besar.
Namun, Hasyim, Kepala Bapelitbangda Morowali, menegaskan bahwa laju industri belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan yang merata.
“Pertumbuhan ekonomi di Morowali tinggi, tetapi tidak serta-merta menurunkan angka kemiskinan. Ini menjadi persoalan besar yang harus segera dicari jalan keluarnya,” kata Hasyim.
Dampak Industri dan Ketimpangan
Di balik geliat industri, Morowali menghadapi tantangan serius. Kerusakan infrastruktur jalan nasional maupun daerah akibat aktivitas kendaraan industri, pencemaran lingkungan, pemukiman kumuh, hingga persoalan sampah dan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kecamatan Bahodopi menjadi isu yang terus muncul.
Sektor pendidikan pun tak luput dari tekanan. Di kawasan industri, keterbatasan ruang kelas menyebabkan sekolah dasar harus menerapkan sistem tiga shift: pagi, siang, dan sore.
Hasyim menambahkan, masalah pendidikan juga diperparah dengan keterbatasan tenaga pengajar.
“Kekurangan ruang kelas dan kekurangan guru juga menjadi masalah yang perlu diperhatikan. Tanpa perbaikan di sektor pendidikan, kita akan sulit mengejar kualitas SDM yang diharapkan,” ujarnya.
Harapan ke Depan
Tim Ekspedisi Patriot yang dipimpin oleh Prof Heru Susetyo, SH., L.LM., M.Si., M.Ag., Ph.D (Universitas Indonesia), Dr. Eka Purna Yudha, S.P., M.Si (Universitas Padjadjaran), dan Dr. Sc. Yoga Andriana Sendjaja, S.T., M.Sc (Universitas Padjadjaran) hadir memberikan masukan strategis. Kehadiran tim ini diharapkan dapat menjembatani dialog antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat untuk mencari jalan tengah pembangunan.

Melalui koordinasi ini, pemerintah daerah bersama tim berharap keberadaan industri dan PSN di Morowali tidak hanya menggerakkan roda ekonomi, tetapi juga benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat lokal. Strategi inklusif di bidang pendidikan, kesehatan, dan lingkungan hidup dinilai menjadi kunci untuk mengurangi kesenjangan yang ada.
Sebagai salah satu kawasan dengan proyek strategis nasional terbanyak di Indonesia, Morowali menempati posisi penting dalam peta pembangunan nasional. Karena itu, upaya menyeimbangkan pertumbuhan industri dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat menjadi agenda yang tidak bisa ditunda.[RF]







