Kabupaten Tegal, SINAR-BERITA.com|* Proyek pembangunan talud penahan sampah RW04 dan saluran irigasi RW9 yang teletak di desa Dukuhwaru kecamatan Dukuhwaru kabupaten Tegal diduga asal-asalan. Dua paket proyek pekerjaan proyek yang menggunakan anggaran reguler tahap 1 tahun 2023 tersebut menggunakan jenis pembatuan blonos dan batu gunung merah yang rapuh, dan tak layak digunakan untuk pemasangan talud irigasi.
Proyek irigasi yang terdapat di RW9 sebelah timur lapangan desa Dukuhwaru, nilai anggarannya mencapai Rp170.000.000, nampak pasangan batu sisi utara batu belah semua, sisi tengah blonos terpasang full, lantas langsung ditutup spesi adukan, dan sisi selatan nampak batu belah semua terpasang tanpa mengindahkan acuan RAB SNI 40-60, batu blonos dan belah.
Sedangkan proyek talud penahan sampah RW4 yang bernilai anggaran Rp50.000.000,- nampak menumpuk banyak dan sudah terpasang jenis pembatuan batu gunung merah, tidak pakai batu kali padat.

Tenaga kerja pembangunan irigasi RW9 desa Dukuhwaru yang tidak mau menyebutkan namanya menjelaskan bahwa ini (saluran irigasi-red), ini memang proyek desa.
“Untuk ketinggian dari dasar air pondasi ke pasangan atas irigasi ini tinggi 70 cm dan lebar pondasi 40 cm, untuk panjang keseluruhan kurang tau, proyek ini sudah dua minggu berjalan” ungkap seorang tenaga kerja, yang ditemui, Senin (12/6/2023)
Kepala desa Dukuhwaru Murdiyanto menjelaskan, untuk perbedaan batu, itu dimungkinkan karena keterlambatan pengiriman matrial, sedangkan untuk pekerjaan itu Murdiyanto, yang mengaku pernah menjadi seorang kontraktor, memungkinkan bahwa pekerjaan itu sudah maksimal adanya.
“Jadi pekerjaan irigasi kita ada yang cuma pasang plesteran karena ada yang sudah dipasang warga pembatuanya. Untuk pondasi tinggi 20 cm dan tinggi pasangan sampai muka 70 cm jadi total 90 cm, untuk standar saya usahakan semaksimal mungkin” kata Murdiyanto menanggapi.
Pelaksana Kegiatan Anggaran (PKA)Desa Dukuhwaru Widodo menyampaikan, pekerjaan talud di RW4 memiliki panjang 17.5 meter dengan kedalaman pondasi 1 meter, dan lebar 70 cm. Sedangkan untuk balas pasirnya, digunakan trucuk bambu, mengingat kondisi tanah setempat yang rawan gugur longsor (labil).

“Untuk pembatuan memang saya sudah komplain, datang 1 dam batu tersebut. Untuk analisa, di RAB seharusnya menggunakan batu blonos, namun, berhubung batu blonos lagi susah turunnya, jadi belah seperti itu. Tapi tidak saya pakai, nanti ini saya stop buat urug saja” jelasnya
Widodo juga menawarkan agar awak media sinar-berita bersama membahas hal tersebut di balai desa dan membicarakannya dengan kepala desa. [Rico]







