sinar berita|Minimnya peran serta masyarakat dalam penanganan sampah di lingkungan sekitarnya, menimbulkan keprihatinan mendalam. Seiring dengan berjalannya waktu, hal ini akan memiliki dampak cukup besar terhadap keseimbangan alam dan lingkungan.
Pengelolaan sampah yang baik dengan terobosan teknologi dapat digunakan sebagai kekuatan untuk mengurai masalah sampah. Sinergisitas pemerintah dan masyarakat terutama penggiat lingkungan di setiap daerah untuk atensi pada pengentasan permasalahan lingkungan yang berdaya guna dan berdaya jual.
Dalam Undang-undang nomor 18 tahun 2009 tentang Pengelolaan Sampah, sampah didefinisikan sebagai sisa kegiatan sehari-hari manusia dan proses alam yang berbentuk padat. Dalam kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar disebut dengan limbah.
Sampah Organik
Sampah Organik merupakan sampah yang berasal dari kegiatan pertanian, perikanan, dan kegiatan lainnya. Sebagian besar sampah organik berasal dari sampah rumah tangga seperti kulit buah, sisa sayuran dan makanan yang tidak dihabiskan. Sampah organik juga dibagi menjadi dua yaitu, sampah organik basah dan sampah organik kering.
Sampah organik basah adalah sampah organik yang mempunyai kandungan air yang cukup tinggi seperti kulit buah, kulit sayuran dan biji buah. Sementara sampah organik kering adalah bahan organik yang kandungan airnya kecil. Contoh sampah organik kering di antaranya, kayu atau ranting pohon, dedaunan kering, sisik ikan, kulit telur, batok kelapa dan serbuk gergaji.
Sampah Anorganik
Sampah anorganik adalah sampah yang dihasilkan dari proses industri, biasanya membutuhkan waktu yang panjang untuk dapat terurai dengan tanah. Sampah anorganik ditemui dalam bentuk botol plastik, tas plastik, kaleng dan lain sebagainya, dimana sumber utamanya yakni aktivitas kehidupan manusia.
Keberadaan sampah dapat diukur dari tingkat penggunaan masyarakat terhadap suatu jenis material. Adapun material yang lazim digunakan dalam lingkungan masyarakat yakni, hampir seluruh kegiatan industri seperti sampah elektronik, sampah plastik, sampah makanan, dan jenis-jenis lainnya. Namun, yang paling kerap ditemui dalam lingkungan masyarakat adalah sampah plastik, yang saat ini menjadi masalah kita bersama.

Bagaimana Kita Dapat Selesaikan Permasalahan Sampah?
Pada tanggal 21 Januari 2005 kita diingatkan tentang kasus ledakan gas metana dari dalam gunungan sampah Tempat Penampungan Akhir (TPA) Cireundeu Jawa Barat. Kejadian itu dikategorikan sebagai bencana serius dan diperingati sebagai Hari Penanganan Sampah Nasional (HPSN) oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Ledakan gas metana tersebut mengakibatkan kematian sebanyak157 orang, kebanyakan warga masyarakat yang berprofesi sebagai pemulung, yang merupakan ‘pengurai’ paling berjasa. Tidak hanya itu, masalah sampah di sekitar TPA Cireundeu dikenal sebagai penyebab longsor di Kampung Cilimus dan Kampung Pojok.
Sebagai manusia yang hidup di jaman modern, dengan segala kemajuan teknologi, kita harus kembali berinteraksi dengan alam, dan tidak menjadi majikan baru yang memperbudak segala sesuatu di sekitar kita, karena pada dasarnya manusia merupakan satu kesatuan dengan siklus alami.
Berinteraksi dengan alam, memaknai, alam dan seisinya diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dimana Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) menjadi tulang punggung dalam pembangunan untuk memelihara bumi, bukan untuk menghancurkan bumi.
Pemerintah harus terbuka dan memberikan dukungan kepada mahasiswa pecinta alam di Indonesia yang melakukan kegiatan dan program kerjanya, mengingat mahasiswa adalah agen perubahan yang nyata, sebagaimana tiga landasan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu, Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan, dan Pengabdian Kepada Masyarakat. [Rian Fajar Aritonang]







