Oleh: Richard Aritonang
sinar berita.com |Penggunaan pupuk kimia pada tanaman produktif, secara evolutif, membuahkan kerusakan akut pada tanah dan lahan pertanian. Sudah saatnya, pemegang kebijakan dalam bidang pertanian dan pangan melakukan perubahan pola tanam dengan menerapkan cara-cara natural dalam mengelola sektor-sektor pertanian yang hasilnya menjadi konsumsi tubuh secara langsung.
Kita memiliki banyak pakar-pakar pertanian yang dilahirkan oleh sekolah-sekolah ternama di negeri ini. Namun, mereka seolah tak bergeming pada kenyataan yang terjadi sebagai akibat penggunaan pupuk kimia yang secara lambat laun merusak tanah, mereduksi kualitas dan kuantitas hasil-hasil pertanian serta menimbulkan varietas-varietas penyakit yang bersarang didalam tubuh.
Kita semua menyadari dan menyaksikan, sebagian besar hasil pertanian maupun buah-buahan produksi dari dalam negeri tidak memenuhi kriteria ekspor alias ‘tidak laku’, karena tingginya kandungan residu pada produk lokal, bahkan jauh melampaui ambang toleransi persyaratan internasional. Dan, oligarki sektor pangan seolah tak bergeming akan hal itu.
Praktisi pertanian dari Universitas Padjajaran, Hendrawan mengemukakan, penggunaan pupuk kimia secara ‘serampangan’, lambat laun dapat menyebabkan kerusakan akut pada tanah, menurunkan kuantitas hasil, dan menurunkan kualitasnya.

“Sebelum tahun 70-an, petani-petani di Indonesia belum mengenal pupuk kimia. Mereka menggunakan pupuk alami dan organik. Hasil-hasil pertanian yang dituai tergolong tinggi dan sehat adanya. Periode 70-an ke sini, penurunan produksi nampak secara signifikan. Buah-buahan dalam negeri tidak laku di ekspor, bahkan baru-baru ini, terdengar sinyalemen dari kementerian pertanian bahwa Indonesia akan mengalami krisis pangan serta hadirnya jutaan ton beras impor didalam gudang-gudang pangan dalam negeri,” paparnya.
Ia menuturkan, awal-awal tahun 70-an, penggunaan pupuk kimia dalam sektor pertanian mulai diterapkan secara massal diikuti lahirnya perusahaan-perusahaan maupun badan usaha milik negara (BUMN) berbasis produksi dan penyaluran pupuk kimia. Dalam kurun waktu beberapa lama, Indonesia berada pada level Swasembada pangan bahkan pernah berada pada level surplus pangan melampaui Thailand.
“Ibarat seorang atlet lari yang sehat, diberi doping, tentu larinya semakin kencang. Namun secara periodik, penggunaan doping itu akan merusak tubuh si Atlet. Makanya, penggunaan doping bagi atlet dilarang. Demikian pula penggunaan bahan-bahan kimia dalam pemupukan tanaman, merusak tanah serta penggunaan residu dalam pembasmi hama, menyerap kedalam tanah serta menrubah kesehatan tanah,” tuturnya.

Lahan dan Konsumsi Makanan Sehat
Mulyadin, Seorang petani di Cianjur menegaskan sikapnya, telah lama tidak menggunakan pupuk kimia pada tanaman padi yang dikelolanya. Ia menjelaskan, dirinya membuat sendiri pupuk untuk tanamannya secara proses komposing pupuk organik.
“Memang agak ribet menggunakan pupuk organik, tetapi dengan menggunakan pupuk organik, biaya produksi atas padi tanaman saya jauh lebih murah, bulir padinya lebih banyak dan sehat serta hara tanahnya terjamin kesehatannya.

Seorang pimpinan kelompok Tani (Poktan) juga di Cianjur, Ece, menegaskan bahwa dirinya menggunakan pupuk organik pada tanaman padi yang dikelolanya. Ia menilai, secara real, penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan hasil padi, menjamin kesehatan produksinya, serta mampu melakukan healing terhadap tanah-tanah persawahan yang sakit akut akibat penggunaan pupuk kimia.
“Saya ingin kita semua, seluruh masyarakat di Indonesia, mengkonsumsi makanan yang betul-betul sehat, memperoleh peningkatan hasil pertanian, dan melestarikan lingkungan hidup yang sehat, khususnya tanah-tanah pertanian,” tekad Ece.
Membuat pupuk organik memang membutuhkan waktu prosesi secara komposit antara kotoran hewan dan sekam padi maupun material sejenis. Namun, teknik-teknik prosesi produksi pupuk organik yang alami telah ditemukan oleh pakar-pakar pertanian, seperti Hendrawan yang telah memproduksi dan menerapkan pupuk temuannya di luar negeri (Abu Dhabi), yang memiliki suhu udara mencapai 42 derajat Celcius.

Bagaimana dengan kita di Indonesia? Sudah waktunya para pemegang kebijakan berfikir dan mulai menerapkan cara-cara yang berpihak kepada keberlangsungan lingkungan dan kehidupan berkesinambungan, dengan mengadopsi pemikiran brilian dari anak bangsa, untuk mewujudkan kesejahteraan nyata dan bukan hanya buah mulut membuai saat kampanye, namun mematikan saat saat kedudukan itu ditempati.







