Jakarta, SINAR-BERITA.com|* Dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia (World Cancer Day), Sabtu (25/2/2023), PT Kalbe Farma gelar seminar dengan tema, Close The Care Gap, untuk untuk memberi edukasi kepada masyarakat, mendeteksi kanker lebih dini terutama pada anak. Sebab, kanker tidak hanya terjadi pada orang dewasa atau remaja namun juga dapat terjadi pada anak-anak.
Presiden Direktur PT Global Onkolab Farma, Kalbe Group, dr. Selvinna M.Biomed menjelaskan, PT Kalbe Farma Tbk melalui World Cancer Day 2023 berperan aktif meningkatkan awareness terhadap kanker anak dengan mengundang tenaga medis yang terlibat langsung pada kasus kanker anak.
Menurut data yang diperoleh dari World Health Organization, sekitar 400.000 anak tiap tahunnya mengalami kanker, dan leukemia kasus paling banyak menyerang anak-anak. Di Indonesia, kanker darah pada anak berada di posisi tertinggi, yakni sekitar 2000-3000 kasus per tahun.
Dari kasus kanker di Indonesia Kalbe Farma menyediakan Nutrican Xential sekaligus memberikan edukasi kesehatan melalui ekosistem ONE Onco, yaitu meningkatkan kesadaran untuk melakukan skrining, deteksi dini, dan pentingnya menjaga pola hidup sehat. Selain itu, untuk menjawab tantangan rendahnya keberhasilan dalam penanganan kanker anak di Indonesia.
“Nutrican Xential merupakan nutrisi pertama dan satu-satunya untuk pasien kanker anak, yang tinggi kalori, tinggi protein, dilengkapi dengan EPA dan DHA untuk membantu perkembangan kecerdasan anak, serta rendah laktosa. Kami berharap, dengan membantu meningkatkan status gizi dapat turut meningkatkan keberhasilan terapi kanker pada anak. Produk ini akan dipasarkan pada bulan April 2023,” dr Selvinna menjelaskan.
Kalbe juga menghadirkan Denada Tambunan selaku pekerja seni sekaligus orang tua dari cancer warrior untuk memotivasi orang tua yang sedang menemani anak yang berjuang terhadap kanker.
Menurut Denada, Awalnya ada memar di tubuh anaknya berusia lima tahun, juga demam. Setelah melakukan pemeriksaan kedokter ahli darah, ada indikasi terkena leukemia.
“Aku langsung bawa anakku menjalani berbagai perawatan seperti kemoterapi, efek dari kemoterapi ga mau makan apa pun, aku harus cari cara supaya anakku makan,” cerita Denada.
Denada menambahkan, puterinya sempat tidak mau makan apa pun selama proses berjuang melawan leukemia. Itu merupakan pukulan terberat dalam hidupnya. Denada yang dahulunya tidak bisa masak pun, berusaha kreatif dalam menyajikan makanan sehat yang dapat diterima sang buah hati.
“Intinya, kita semua tahu pada saat kanker terjadi pada anak kita, ada tantangan bagaimana caranya supaya anak kita mau makan. Supaya perjuangan kita sama-sama ketika anak kita berjuang,” tutur Denada.

Rendah Kesadaran Pehaman Gejala Pada Anak
Dokter Spesialis Anak Subspesialis Hemato-Onkologi RS Cipto Mangunkusumo, dr. Ludi Dhyani Rahmartani, Sp.A-KHOM, mengungkapkan, Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan kanker anak di Indonesia adalah rendahnya kesadaran terhadap tanda dan gejala kanker anak.
“Hampir 50 persen kasus kanker anak yang datang ke fasilitas kesehatan sudah dalam keadaan stadium lanjut. Oleh sebab itu, tingkat keberhasilan penanganan kanker pada anak hanya sekitar 30 persen,” ungkap dr. Ludi Dhyani Rahmartani, Sp.A-KHOM.
Angka tersebut, jauh di bawah Malaysia (60 persen), Thailand (50 persen), dan negara maju yang tingkat keberhasilannya mencapai 80-90 persen. Padahal, apabila dapat terdeteksi secara dini, kanker pada anak dapat disembuhkan dengan pengobatan dan nutrisi yang baik, jelas dr.Ludi.
Brand Ambassador Nutrican dan Penyintas Kanker Ovarium, Shahnaz Haque menjelaskan,pasien kanker sangat membutuhkan nutrisi yang tepat untuk membantu proses perawatan. Karena, ketika menjalani perawatan seperti kemoterapi, berisiko mengalami mual, muntah, tidak nafsu makan, yang mempengaruhi kondisi tubuh.
Pengobatan kanker anak lebih sedikit ragamnya karena harus multi disiplin dan orang dewasa pengobatannya lebih advance. Karena pada dasarnya sama dan harus di sesuaikan dengan stadium, dosis, berat badan dan tinggi badan.
Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FACP, mengatakan, ada tiga program utama yang dilakukan YKI dalam menghadapi kasus kanker. Di antaranya, program promotif, preventif, dan supportif. Program promotif menitikberatkan pada penyuluhan dan pendidikan terutama masyarakat awam.
“Untuk program preventif, YKI juga memfasilitasi program pemeriksaan dini. Yayasan Kanker Indonesia juga mendirikan paguyuban relawan kanker serta menyediakan tempat singgah bagi pasien berserta keluarga. Seluruh kegiatan YKI dilakukan dengan Kerjasama semua pihak baik pemerintah, organisasi profesi, dan Lembaga swadaya masyarakat di dalam maupun luar negeri,” jelas Prof. Aru.
Prof.Aru menambahkan bahwa ditahun 2018 silam WHO sudah memberikan tugas ke pada anggota PBB bahwa pada tahun 2030 harus bisa mengurangi penyakit kanker 30%, dan 2045 akan disebut dengan generasi emas dimana 63% dari rakyat Indonesia adalah generasi produktif yang harus dikelola dengan baik agar tidak menjadi generasi cemas.
YKI pun turut berpartisipasi dalam mengedukasi masyarakat tentang kanker serta penangananya secara dini sekaligus memberikan dukungan moral, pendampingan bagi para penderita kanker serta ikut serta dalam pengadaan obat.

“Untuk program preventif, YKI juga memfasilitasi program pemeriksaan dini. YKI juga mendirikan paguyuban relawan kanker serta menyediakan tempat singgah bagi pasien berserta keluarga. Seluruh kegiatan YKI dilakukan dengan kerjasama semua pihak baik pemerintah, organisasi profesi, dan Lembaga swadaya masyarakat di dalam maupun luar negeri,” tutup Prof. Aru.[Shanty Rd]







