Jakarta, sinar–berita.com|Sebagai seorang jenderal bintang tiga, Prabowo Subianto adalah seorang pemimpin yang dididik untuk memiliki jiwa kesatria. Ketika diberi argumen yang masuk akal, Prabowo tidak segan-segan berbesar hati secara terbuka mengakui pendapat dari lawan-lawannya.
Sikap kesatria tersebut ditunjukkan Prabowo Subianto dalam debat pamungkas yang digelar akhir pekan lalu. Pada kesempatan tersebut, capres nomor urut 02 tersebut berkali-kali menyatakan sepakat dengan para rivalnya, saat membicarakan kebudayaan, pendidikan, disabilitas, sampai buruh migran.
“Sekali lagi, kedua masukannya juga sangat relevan, saya juga sependapat,” kata Prabowo saat menanggapi pendapat Ganjar dan Anies mengenai pentingnya penguatan data penyandang kaum disabilitas.
Melihat sikap sportivitas ini dipuji oleh Sekjen Relawan Prabowo (Repro) Arya Sadhana yang menilai, tidak banyak pemimpin yang mampu menampilkan kelegaan hati seperti yang diperlihatkan oleh Prabowo saat itu.

“Kita membutuhkan pemimpin yang memberi kesejukan, pemimpin yang mampu menjadi pemersatu bangsa dan bukan memecah-belah masyarakat. Hal itu telah diperlihatkan dengan baik oleh Prabowo dan karenanya Prabowo lebih dari layak untuk menjadi presiden,” jelas Arya Sadhana yang merupakan aktivis 98.
Tak hanya itu, menurut Arya, sikap yang santun dan rendah hati juga ditampilkan Prabowo pada closing statement. Pada kesempatan tersebut Prabowo menegaskan bahwa pemilu tidak perlu dijadikan ajang untuk mempertajam perbedaan, namun harus tetap mengedepankan kondusivitas serta memperkuat persamaan dan persatuan.
“Hal inilah yang patut kita puji. Prabowo memandang pemilu sebagai ajang pesta demokrasi yang harus dirayakan dengan riang gembira. Karenanya, pada pemilu perbedaan tidak perlu terus dibicarakan, persamaanlah yang harus dikedepankan pada masyarakat majemuk seperti Indonesia,” lugas Arya Sadhana.
Semua sikap itu menurut Arya Sadhana merupakan buah dari pendidikan tentara yang sudah didapat Prabowo Subianto sejak muda. Karena itu, Prabowo ingin berjuang demi kesejahteraan penegak negara Indonesia seperti prajurit TNI, polisi, hingga jaksa mendapat gaji layak dengan keadaan hidup yang baik.
Berdasarkan laporan International Institute for Strategic Studies (IISS), jumlah tentara aktif Indonesia diestimasikan sebanyak 395.500 orang pada 2022. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia di urutan ke-13 dunia.

Di sisi lain, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) melaporkan bahwa jumlah polisi di Indonesia mencapai 436.432 orang pada 2022, dan ada 11.140 jaksa di seluruh Indonesia.
“Selain masyarakat umum, buruh, petani, nelayan, hingga guru yang memang harus ditingkatkan kesejahteraannya, Prabowo tak lupa untuk menempatkan kesejahteraan prajurit, polisi, dan jaksa sebagai salah satu yang utama ketika menjadi presiden Indonesia. Ini tentu patut untuk diapresiasi,” kata Arya Sadhana. [Shanty Rd]







