Rabu, Oktober 14, 2026

Ekonomi Indonesia di tengah Gejolak Global: Fundamental Domestik Kuat dan Rupiah Stabil

Jakarta, Sinar-Berita.com|*  Efek berkepanjangan konflik Rusia dan Ukraina, perang dagang semikonduktor dua kekuatan ekonomi dunia antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, membuat gejolak ekonomi dunia dalam kondisi tidak pasti serta krisis energi dunia masih menjadi faktor yang mempengaruhi ekonomi domestik suatu negara.

Global Economic Prospects edisi Juni 2023, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara-negara maju masih akan melambat di level 0,7% pada 2023 dari kondisi 2022 yang tumbuh 2,6%. Proyeksi ini melihat bahwa masih ada tekanan terhadap negara-negara dari turbulensi ekonomi global yang belum baik.

The Fed menahan suku bunga acuan di rentang 5%-5,25% juni lalu. Keputusan ini dinilai mengakhiri tren kenaikan suku bunga secara beruntun. Kenaikan suku bunga tersebut disebut berbagai pihak dalam rangka mencegah inflasi berlebihan dan menjaga stabilitas ekonomi.

Disisi lain, Tiongkok mengalami perlambatan ekonomi yang signifikan dengan hanya membukukan produk domestik bruto (PDB) sebesar 4,5% pada kuartal pertama 2023. Pada April 2023, impor Tiongkok mengalami kontraksi tajam sebesar 7,9%, sementara ekspor hanya 8,5%, dibandingkan Maret lalu yang berada pada kisaran 14,8%.

Menanggapi tren ekonomi global yang mengalami tekanan, Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menjelaskan bahwa efek dan tekanan ekonomi yang dihadapi para negara-negara besar di dunia, tentu dapat berimbas secara global.

“Raksasa ekonomi dunia ini ketika bermasalah tentu akan mempengaruhi ekonomi global, sehingga diharapkan pertumbuhannya selalu baik. Tapi dalam konteks Tiongkok, nyatanya saat ini belum seperti yang diharapkan,” tuturnya saat diskusi ekonomi di Satrio Tower Jakarta

Eko menambahkan, dalam konteks ekonomi Tiongkok, diproyeksikan pertumbuhannya dapat mencapai sampai 6%, namun kemudian berbagai indikatornya tidak terlihat menuju pertumbuhan yang cukup.

“Revisinya ada di angka 5 setengah dan angka ini pun sebenarnya belum cukup maksimal, karena untuk sekelas Tiongkok minimal di angka 7% bila ingin pulih. Berbeda dengan Indonesia yang hanya di angka 5% saja sudah cukup. Sementara itu, untuk Amerika sendiri, tingkat inflasinya sudah cukup rendah di angka 3%, tinggal ditunggu saja, apakah konsisten atau sifatnya sementara,” jelasnya

Meski gejolak ekonomi global sedang tinggi, Eko meyakini fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia, Menurut Eko, fenomena ekonomi global tidak langsung berdampak dengan ekonomi Indonesia. Karena menurutnya, ekonomi Indonesia sumber utamanya adalah domestik yang memungkinkannya akan terus tumbuh dan kebal dengan tekanan dari luar.

“Indonesia bagaimana? Ekonomi Indonesia driver utamanya adalah domestik. Jadi selama domestiknya masih bisa bergulir, sebetulnya kita masih bisa tumbuh sekitar 4,8%. Memang tidak se-impresif pemerintah yang memiliki target 5,3%, tapi kalau sedikit di bawah 5% menurut saya  masih mungkin yah, karena mempertimbangkan kelesuan yang terjadi pada tataran ekonomi global,” tutur Eko menambahkan.

Eko juga mengingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam hal efektifitas pembelanjaan agar mencapai target pajak yang sesuai dari sisi penerimaan. Terlebih Eko mendorong agar pemerintah melakukan government spending agar anggaran negara segara dapat dipompa untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Sejauh ini ekonomi nasional masih terbilang stabil. Oleh karena itu, sudah saatnya melakukan government spending. Anggaran ini harus segera dipompa untuk ke ekonomi riil, dieksekusi di sektor rill untuk kemudian menghasilkan PDB,” tuturnya.

Sementara itu, Co-Founder Tumbuh Makna, Fenny Tjahyadi mengatakan bahwa indikator perlambatan ekonomi di Indonesia belum terlihat, meskipun telah terjadi tekanan global kenaikan suku bunga AS. Salah satu faktor ekonomi Indonesia masih sehat, menurut Fenny, antara lain adalah nilai tukar mata uang Indonesia, yakni rupiah yang masih terbilang stabil di antara nilai tukar mata uang negara lainnya di dunia.

“Melihat pasar makro di Indonesia pada beberapa bulan terakhir lebih cenderung ke arah positif. Melihat tanda-tanda ini, jadi analisanya adalah perlambatan ekonomi di Indonesia sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi. Ini dapat dilihat ketika terjadi inflasi yang mengalami perlambatan pasca libur hari raya waktu itu. Bahkan pada Juli ini inflasi sudah masuk ke rentang target Bank Indonesia.

Awal bulan Juli pun inflasi kita turun ke level 3,52%. Untuk kategori transportasi mengalami deflasi sebesar 0,1%. Sedangkan untuk sektor makanan dan minuman inflasinya melambat di bawah 0,5 persen. Ini terjadi karena permintaannya sudah normal kembali pasca libur hari raya dan juga untuk suplainya sudah cukup tinggi. Selain itu, nilai tukar kita terbilang masih cukup kondusif di tengah nilai tukar mata uang negara-negara lain yang terkena dampak,” katanya menjelaskan.

Bahkan Fenny melihat, BI kemungkinan akan menurunkan suku bunga dalam beberapa waktu ke depan sehingga dinilai sangat kondusif dan sangat bagus bagi para investor untuk mengambil peluang yang ada.

“Berdasarkan konsensus di pasar, kita melihat bahwa BI masih punya ruang untuk menurunkan tingkat suku bunga. Kita memperkirakan penurunannya itu bisa sampai 50 hingga 75 basis point itu sampai di awal 2024. Dengan adanya kemungkinan penurunan suku bunga ini, kita melihat akan jadi sentimen positif terutama di instrumen pendapatan tetap seperti obligasi. Itu tercermin dari net buy asing per bulan Juni sampai akhir Juni itu mencapai Rp80 triliun,” katanya

Untuk sektor saham, Fenny melihat setidaknya ada dua sektor yang memilki potensi bagus, terutama menjelang pemilu 2024, yakni sektor properti dan telekomunikasi.

Analis dan Perencana Keuangan Benny Sufami menekankan bagi para investor untuk sabar dalam melakukan investasi pada 2023. Menurutnya, potensi pasar yang saat ini sangat menarik dan menguntungkan harus dapat dicermati dengan baik dan tepat.

“Investor harus sabar dan menunggu karena ada potensi yang cukup menarik pada 2023 ini. Tren ini seperti Maret 2020 lalu di mana akan ada pertumbuhan yang positif sehingga dalam 12 bulan kita bisa melesat bila berkaca pada awal pandemi,” ujarnya.

Meski optimis melihat data makro pada 2023 ini, Benny menekankan bahwa para investor harus tetap berpatokan pada profil risiko masing-masing.

“Saya rasa dengan fakta dan data yang ada, kita mesti optimis ekonomi kita akan berkembang. Hanya saja kita mesti hati-hati dalam mengambil kesempatan ini. Dalam konteks investasi, investor perlu memahami risikonya, sesuai dengan profil risiko masing-masing, baru kemudian melihat return-nya,” katanya.

Benny juga mengajak para investor untuk terus mengembangkan keahlian dan memperdalam keilmuan dalam melakukan investasi. Salah satunya dengan menguatkan literasi investasi dengan membaca dan memantau perkembangan ekonomi yang terjadi, dan memahami profil diri sendiri untuk mencegah atau menghindarkan investasi yang tidak sesuai. [Shanty Rd]

 

RICHARD ARITONANGhttps://www.sinar-berita.com/
sinar-berita.com adalah media publikasi cetak dan online yang juga menggunakan facebook, twitter, instagram

Related Articles

COSMAX Indonesia Raih Sertifikasi AEO dari Dirjen Bea dan Cukai

Jakarta, sinar-berita.com| COSMAX Indonesia memperoleh sertifikasi Authorized Economic Operator (AEO) dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Pencapaian ini menempatkan...

COSMAX Indonesia Hadirkan Enam Poster di IFSCC 2026

Perth, sinar-berita.com| Memperkuat kehadirannya di panggung riset kosmetik global dalam Kongres Ke-36 International Federation of Societies of Cometic Chemists (IFSCC) 2026 yang diselenggarakan di...

PT COSMAX Indonesia Raih Most Immersive Award dan Sustainability Award

Kabupaten Tangerang, sinar-berita.com| Menghadirkan beragam inovasi produk dan konsep kecantikan serta merepresentasikan trend industri kecantikan tahun 2027, COSMAX Indonesia kembali ambil bagian dalam gelaran...

FPMI Datangi Mabes Polri, Desak Kapolri ‘Berantas’ Oknum Yang Coba Bekingi Mafia Gas

Jakarta, sinar-berita.com|Forum Pemuda dan Mahasiswa Indonesia (FPMI), dipimpin Ketua Umumnya Shella Maulana, hari ini mendatangi Mabes Polri untuk menyampaikan sikap tegas terhadap maraknya mafia...

Aroma Limbah PT JPN Diduga Penyebab Siswa SMPN 4 Jombang Mual

Jombang, sinar-berita.com| Aktivitas belajar mengajar di SMPN 4 Jombang. Jawa Timur tergangggu akibat munculnya bau menyengat yang diduga berasal dari limbah cair pengolahan ayam...

Langgar Rambu Lalin, Sopir Truk Diduga Gunakan SIM Palsu

Jombang, sinar-berita.com|Saat melakukan patroli hunting, di jalan Cempaka desa Mojongapit Jombang Jawa Timur, petugas Unit Turjawali Polres Jombang Jawa timur temukan pengemudi truk yang...

PT SGS Jombang Terus Mangkir dalam Sidang Kasus PHK Buruh

Jombang, sinar-berita.com| Perusahaan kayu lapis PT Sumber Graha Sejahtera (SGS) Kabupaten Jombang  Jawa Timur, kembali tidak hadir  dalam persidangan perkara perselisihan hubungan Industrial  yang...

Puntung Rokok, Diduga Pemicu Kebakaran Rumah di Tembelang Jombang

Jombang, sinar-berita.com| Bangunan rumah milik Supiah warga dusun Kontol kecamatan Tembelang kabupaten Jombang Jawa timur terbakar, Senin (21/9/2026). Kebakaran diduga dipicu puntung rokok mengenai...

Gelar RUPSLB, Ratu Kantongi Restu Pemegang Saham, Perkuat Penambahan Modal

Jakarta, sinar-berita.com|PT. Raharja Energi Cepu Tbk menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, Selasa (8/9/2026). Acara Rapat yang diselenggarakan memperoleh persetujuan...
- Advertisement -

Latest Articles