KEHIDUPAN SEORANG GURU yang memiliki jam terbang rintangan penderitaan dan tantangan serta kesulitan didalam hidupnya, memiliki pengalaman yang baik dan memiliki pikiran berkualitas jernih pada permasalahan yang muncul dan datang.
Mengandalkan pengalaman yang banyak tantangan dan pikiran yang murni itu amat penting didalam pembinaan moral pada lingkungan sekaligus akan munculkan keberhasilan seorang anak didik kedepan dalam memaknai kehidupan yang sebenarnya terjadi dengan baik, damai dan bijaksana .
Saat ini banyak dijumpai, orang yang baru belajar sedikit ajaran agama atau filsafat lainnya, sudah munculkan sifat sombong dan menghakimi, ketidakpuasan pada kehidupan orang tuanya, kemarahan diri pada budaya leluhur, menyalahkan suasana fenomena lingkungan keluarga dan masyarakat umumnya, yang seolah salah dan buruk.
Padahal budaya leluhur , orang tua, dan masyarakat dari sejak masa lalu hingga saat ini kehidupannya biasa dan baik-baik aja.
Maka dari itu, belajar sebuah ajaran agama harus ada saluran penyaringan yang baik yaitu dengan memunculkan akal yang sehat, dengan pengertian yang jernih dan damai terhadap sebuah ajaran yang akan kita pelajari, dan masukkan ke dalam alam pikiran dan kehidupan diri dan keluarga kita.
Karena pintu masuk ke dalam pikiran diri, ada di pintu kesadaran diri yang terdapat didasar kecenderungan sifat jiwa.
Bila sekejap perasaan hati baik dan jernih, didalam diri akan muncul ketulusan yang menyaring dengan baik dan benar, pada sebuah ajaran yang masuk ke dalam kehidupan diri.
Bila sebaliknya, sekejap perasaan hati akan galau dan buruk, akan menerima ajaran baru tersebut dengan munculnya fikiran buruk pula, lalu khusuk untuk menghakimi dan menyalahkan lingkungan, dengan kemarahan dan kebencian dimana dia berada.
Karena saat ini, banyak ditemukan orang baru sedikit belajar agama, sudah mampu menjadi guru untuk kepentingan pribadinya, menipu, dan berkedok baju agama yang isi ajarannya membelot dan menyesatkan pikiran alam sadar umatnya untuk dijadikan ATM bagi dirinya, sebagai guru yang sok alim dan munafik.
Dan umatnya tersesat oleh ajarannya, merasakan kebenaran untuk menghakimi lingkungan, keluarga, dan masyarakat. Memunculkan sifat ketidakpuasan, kemarahan, kebencian, kesombongan dan keraguan terhadap tatanan budaya leluhur, ajaran orang tua serta hukum masyarakat sekitarnya.
Banyak ajaran yang sesat merendahkan budaya leluhur, dan meremehkan ajaran orang tua sendiri serta menjelek-jelekan kehidupan masyarakat dan pemerintah lainnya dengan kata sesat dan buruk.
Sadarilah, hidup baik, sehat dan bahagia, adalah bila pembawa ajaran sebuah agama bisa menuntun umatnya memiliki rasa kasih sayang, cinta tanah air yang tulus, mampu bangkitkan semangat juang yang mandiri, dan memupuk moralitas sifat jiwa jadi semakin baik dan berkualitas.
Ajaran benar adalah ajaran yang mampu memperindah dan memperkaya kehidupan budaya leluhur, mampu menterjemahkan ajaran orang tua menjadi semakin baik dan Bermanfaat.
Ajaran yang kurang sempurna dan sesat, adalah ajaran yang mampu bangkitkan emosional umatnya dengan kemarahan dan kebencian penuh kebodohan pada lingkungan.
Umatnya setiap saat digiring merasakan ajarannya paling lengkap, baik dan benar tetapi mewujudkan moralitas, perilaku buruk dan miskin pada lingkungan, tanpa mau bekerja keras secara baik dan benar.
Ajaran sesat dan buruk mengajarkan umatnya malas bekerja, dan suka minta sumbangan tanpa bekerja secara baik dan benar sehingga istri, anak serta kehidupan keluarga tercinta, terlantar dan menderita.
Ada juga sekelompok umat yang suka mengeluarkan kata fitnah dan hoax yang jelek-jelek untuk menjatuhkan seseorang yang memiliki kredibilitas yang baik, dengan cara yang licik.
Ada juga sekelompok orang dengan sengaja menjelekkan cara hidup budaya leluhur dan orang tua, dengan menghilangkan dan menghabiskan budaya leluhur nenek moyang dan ajaran orang tuanya sendiri.
Ini adalah contoh fenomena guru sesat dan buruk, yang akan menjerumuskan umatnya masuk ke neraka yang tak putus-putus, menjelmakan hidup miskin dan derita.
Hormati dan hargailah orang tua anda penuh cinta kasih sayang, dan perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari.
Ajaran sejati adalah mengutamakan moral, budi pekerti yang baik terhadap orang tua, lingkungan keluarga, dan masyarakat.
Keluarga adalah sebuah karunia yang baik dari sang maha Kuasa, Senantia menjaga keutuhan keluarga, dengan tanpa lelah melakukan kebajikan. Bila keluarga bisa membahagiakan lingkungan, masyarakat jadi baik dan bahagia.
Bila ada sebuah ajaran yang mengajarkan umatnya untuk menjauhi budaya leluhur dan nasehat kehidupan orang tuanya, itu adalah sebuah ajaran keliru dan buruk sekali.
Negara yang menghormati dan menghargai budaya leluhur nya dengan kredibilitas bangsa nya yang baik dan benar adalah Tiongkok dan Jepang.
Negara yang kehilangan budaya leluhur dan kredibilitas bangsanya adalah Mesir, Irak, dan Afrika.
Orang Bijak, menjauhlah dari guru yang sesat dan buruk tetapi erat dan akrablah dengan guru yang sejati dan baik, agar cahayamu terpancar keseluruh dunia laksana Bulan dan Matahari. Jangan erat dan karib dengan ‘guru’ yang dari mulutnya keluar lontaran fitnah dan kebencian.
Salah satu kata bijak mengatakan, jika ada seorang pemfitnah, janganlah tinggal bersamanya. Kalau erat serta tinggal bersamanya, engkau akan terjatuh kedalam neraka penderitaan berkepanjangan.
Hidup adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan kewajaran munculnya fenomena baik dan buruk dikehidupan sehari-hari diri. Karena tanpa adanya muncul fenomena baik dan buruk di kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa belajar jadi baik, benar dan dewasa.
Justru, adanya muncul fenomena baik dan buruk dikehidupan sehari-hari, kita dapat belajar, bagaimana membentuk dan mewujudkan hal yang baik dan manfaat untuk diri dan keluarga tercinta.
Guru teladan yang baik, cerminkan kesadaran dan kebijaksanaan jiwa, berkontribusi menjadikan bhakti sebagai kompas kehidupan dijalan yang benar, dan bersumbangsih melakukan kebajikan bermanfaat kebahagiaan bagi seluruh mahluk hidup.
Semoga semua mahluk hidup dapat tercerahkan dan terselamatkan oleh ajaran baik dan sungguh-sungguh melaksanakan didalam hatinya, di kehidupan sehari-hari dalam Sejuk dan Damai.
Edited/Published by: Richard Aritonang







