Kamis, Oktober 15, 2026

Penggunaan Pupuk Kimia Terhadap Tanaman Pangan Adalah Kejahatan?

sinarberita.com |Penggunaan pupuk kimia secara terus menerus dapat menimbulkan bahaya bagi lahan pertanian, karena dapat merusak tanah dan mengganggu keseimbangan unsur hara yang ada didalamnya.

Namun, sampai saat ini sebagian petani masih menggunakan pupuk kimia dalam mengolah lahan pertaniannya, bersama dalih klasik, ketersediaan pupuk kimia cukup banyak dan mudah diperoleh.

Dampak buruk lainnya, pupuk kimia dapat membunuh mikroorganisme yang berperan penting bagi pertumbuhan tanaman, dan menghambat pembusukan senyawa organik yang dibutuhkan oleh tanaman.

Anggota Poktan di Cianjur Ece Usman Jelaskan Perbandingan Positif Menggunakan pupuk Organik.

Para ahli dan akademisi dari berbagai aspek pertanian di Indonesia, telah menyepakati bahwa penggunaan pupuk kimia secara terus menerus dan serampangan, merusak lahan-lahan pertanian yang mengunakannya, mengurangi kuantitas hasil, memperburuk kualitas produksi pertanian, berujung pada punahnya potensi kekayaan bumi subur Indonesia yang tinggal sebuah dongeng bagi anak-cucu dimasa mendatang.

Tak hanya bicara, banyak dari para akademisi itu bahkan turut menciptakan dan terus melakukan inovasi membuat terapan penggunaan pupuk organik sebagai jalan keluar, dari kian menebalnya kekhawatiran global saat ini, imbas dari penggunaan pupuk kimia.

Beberapa akademisi yang ditemui oleh penulis mengakui, proposal back to nature for everlasting environmental seolah tak beroleh gubris dari pemegang kebijakan. Bahkan ada yang menuding, penerapan penggunaan pupuk organik secara revolusif, akan berimbas pada gulung tikarnya puluhan perusahaan-perusahaan besar yang memproduksi pupuk kimia.

Professor Bomer Pasaribu (Berjas Hijau) bersama Ketua Umum Laskar Ampera ARH 66 Datuk Abdul Muis dalam dialog bersama Media di Taman Ismail Marzuki (TIM), Senin (30/9/2024)

Masih Tetap Dalam Kajian

Ditemui dalam satu kesempatan belum lama ini, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Professor Dr. Bomer Pasaribu mengakui, penggunaan pupuk kimia jelas merusak lahan-lahan pertanian yang menggunakannya. Selain warna tanah berubah secara mencolok, penggunaan pestisida sebagai pembunuh hama, membunuh mikroorganisme yang memiliki peran penting bagi pertumbuhan tanaman.

Dilain sisi, Bomer mengamini, kurang diminatinya hasil-hasil pertanian Indonesia sebagai komoditas impor oleh banyak negara di dunia, tidak terlepas dari tingginya kandungan residu dalam komoditas itu, karena jauh melampaui toleransi ambang batas kandungan residu yang ditetapkan oleh badan kesehatan dunia.

“Dalam kesempatan studi-studi pertanian, soal peralihan penggunaan pupuk kimia ke pupuk organik, sudah masih dibahas. Dalam waktu dekat, kita juga rencanakan bertemu presiden terpilih untuk membicarakan hal ini,” tegas Bomer, disela kehadirannya dalam peringatan Penghianatan G30S/PKI yang diselenggarakan oleh Laskar Ampera Arief Racman Hakim di bilangan Cikini, Senin (30/9/2024) lalu.

Membangun negeri adalah membangun generasi mendatang dengan mempersiapkan mereka menjadi individu-individu cerdas dan peduli sesama hidup. Sudah waktunya, pemegang kebijakan menoleh dan mengerjakan segala aspek mempersiapkan generasi mendatang yang lebih cerdas dari sekarang, lebih tahan secara phisik dan mental menghadapi hempasan-hempasan yang pasti lebih dahsyat dari yang sekarang.

Lahan-lahan segala aspek pertanian, yang subur dan cantik, kita rawat dengan baik agar dia memberi hasil lebih banyak dan baik dimasa generasi mendatang. Bukan menguras kecantikan dan kesuburannya, dengan meracuni tubuhnya demi kepentingan diri sendiri dan kelompok atau oligarki.

Pemerintahan Indonesia baru di bawah kepemimpinan presiden Prabowo Subianto harus berani mereduksi pemeo-pemeo ekonom, demi peningkatan perekonomian, namun merusak sumber-sumbernya, seraya menggeser hasilnya berkeliaran dinikmati sekitar oligarki saja.

Pemerintahan yang akan mulai berjalan dalam hitungan hari ini, harus berpihak kepada generasi mendatang dengan mempersiapkan sarana dan prasarana bagi mereka. Bukan hanya mencanangkan Makan Siang Begizi bagi pelajar, tetapi juga harus bernyali membuat regulasi penerapan pupuk organik diseluruh sektor pertanian, karena jelas kita ketahui, mengkonsumsi langsung bahan pangan dengan pupuk kimia adalah tidak bergizi.

Dilansir dari studi Richard Lynn dan David Becker tahun 2019 menyatakan Intelligence Quotient (IQ) rata-rata orang Indonesia hanya 78,49.  World Population Review pada tahun 2022, menempatkan topscor IQ orang Indonesia di urutan ke 36 di Asia.

Hal itu tentu tidak lepas dari konsumsi pangan yang menggunakan pupuk kimia sejak tahun 1970-an, dan timbulnya penyakit-penyakit aneh seperti, asam urat, asam lambung, asam kantong dan sebagainya.

Pemerintah kedepan harus berani merubah regulasi produksi dan pengelolaan pangan nasional sebagai salahsatu langkah upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045, dan menetapkan bahwa penggunaan pupuk kimia adalah Kejahatan.

Edited By: Richard Arto

RICHARD ARITONANGhttps://www.sinar-berita.com/
sinar-berita.com adalah media publikasi cetak dan online yang juga menggunakan facebook, twitter, instagram

Related Articles

COSMAX Indonesia Raih Sertifikasi AEO dari Dirjen Bea dan Cukai

Jakarta, sinar-berita.com| COSMAX Indonesia memperoleh sertifikasi Authorized Economic Operator (AEO) dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Pencapaian ini menempatkan...

COSMAX Indonesia Hadirkan Enam Poster di IFSCC 2026

Perth, sinar-berita.com| Memperkuat kehadirannya di panggung riset kosmetik global dalam Kongres Ke-36 International Federation of Societies of Cometic Chemists (IFSCC) 2026 yang diselenggarakan di...

PT COSMAX Indonesia Raih Most Immersive Award dan Sustainability Award

Kabupaten Tangerang, sinar-berita.com| Menghadirkan beragam inovasi produk dan konsep kecantikan serta merepresentasikan trend industri kecantikan tahun 2027, COSMAX Indonesia kembali ambil bagian dalam gelaran...

FPMI Datangi Mabes Polri, Desak Kapolri ‘Berantas’ Oknum Yang Coba Bekingi Mafia Gas

Jakarta, sinar-berita.com|Forum Pemuda dan Mahasiswa Indonesia (FPMI), dipimpin Ketua Umumnya Shella Maulana, hari ini mendatangi Mabes Polri untuk menyampaikan sikap tegas terhadap maraknya mafia...

Aroma Limbah PT JPN Diduga Penyebab Siswa SMPN 4 Jombang Mual

Jombang, sinar-berita.com| Aktivitas belajar mengajar di SMPN 4 Jombang. Jawa Timur tergangggu akibat munculnya bau menyengat yang diduga berasal dari limbah cair pengolahan ayam...

Langgar Rambu Lalin, Sopir Truk Diduga Gunakan SIM Palsu

Jombang, sinar-berita.com|Saat melakukan patroli hunting, di jalan Cempaka desa Mojongapit Jombang Jawa Timur, petugas Unit Turjawali Polres Jombang Jawa timur temukan pengemudi truk yang...

PT SGS Jombang Terus Mangkir dalam Sidang Kasus PHK Buruh

Jombang, sinar-berita.com| Perusahaan kayu lapis PT Sumber Graha Sejahtera (SGS) Kabupaten Jombang  Jawa Timur, kembali tidak hadir  dalam persidangan perkara perselisihan hubungan Industrial  yang...

Puntung Rokok, Diduga Pemicu Kebakaran Rumah di Tembelang Jombang

Jombang, sinar-berita.com| Bangunan rumah milik Supiah warga dusun Kontol kecamatan Tembelang kabupaten Jombang Jawa timur terbakar, Senin (21/9/2026). Kebakaran diduga dipicu puntung rokok mengenai...

Gelar RUPSLB, Ratu Kantongi Restu Pemegang Saham, Perkuat Penambahan Modal

Jakarta, sinar-berita.com|PT. Raharja Energi Cepu Tbk menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, Selasa (8/9/2026). Acara Rapat yang diselenggarakan memperoleh persetujuan...
- Advertisement -

Latest Articles