JAKARTA, sinar-berita.com | – Kuburan beras bantuan sosial (Bansos) di lahan jalan Tugu Jaya, Sukmajaya kota Depok, beberapa waktu lalu cukup menyita perhatian publik. Ketua bidang Sosial dan Kesejahteraan Rakyat DPP Partai Perindo Efraim Yerry Tawalujan mengungkapkan alasan penimbunan beras di tanah hingga membusuk akibat terkena air hujan, merupakan satu hal yang tidak masuk akal.
Menurut Yerry, petugas yang melaksanakan distribusi bansos berupa beras, tepung, dan telor, seharusnya sudah memahami bagaimana pengaturan penyimpanan sembako tersebut.
“Distributor bahan pokok di truk-truk itu sudah dapat dipastikan menggunakan terpal sebagai penutup sehingga apabila busuk karena kena hujan itu tidak mungkin” ujarnya saat tampil sebagai narasumber podcast Aksi Nyata Perindo, Minggu (7/8/2022).
Yerry yang mengaku pernah menjadi petugas pelayanan sosial selama 20 tahun ini menjelaskan, pengaturan pembagian bahan pokok pasti sudah menimbang masa kadaluwarsa sembako, khususnya beras, masa kadaluarsanya mencapai dua tahun sehingga pembusukan beras menjadi alasan yang terkesan mengada- ada.
“Kita dulu, saat hendak mendistribusikan beras pasti sudah harus bekerja sesuai SOP (Standar Operasional Procedure). Kita harus tau masa berlaku beras itu, bagaimana mendistribusikanya dan sebagainya, sehingga aneh sekali kalau bahan-bahan pokok itu bisa membusuk sampai harus dikubur.” ungkap Yerry.
Diketahui podcast Aksi Nyata Perindo yang diampu oleh Herjuno Syahputra selaku pemandu dialog bertemakan polemik dugaan penimbunan bansos di Depok Jawabarat. Podcast Aksi Nyata ditayangkan langsung via media sosial dan portal berita online yakni instagram Partai Perindo, RCTI, Okezone, Sindo.news, Inews serta website Partai Perindo.
Sebelumnya, Polisi menghentikan penyelidikan kasus temuan bansos yang dikubur di Sukmajaya Depok. Sebab kasus tersebut tak memenuhi unsur pudana .
“Iya, kasus dihentikan,” kata Direskrimsus Polda Metro Jaya, Kombes Pol Auliansyah Lubis di Polda Metro Jaya , Kamis (4/7/2022).[Maria]







