Jakarta, SINAR-BERITA.com|* Pembentukan forum wartawan dilingkungan Mahkamah Agung secara sepihak oleh Emil Simatupang Cs Sabtu 20 Mei 2023 lalu, masih menyisakan ketidakpuasan dikalangan mayoritas wartawan, karena hanya dibentuk oleh belasan wartawan saja, dan terkesan terburu-buru serta amat sangat tak pantas dilakukan oleh jurnalis yang semestinya mengedepankan intelektualitas prima dan universal, bukan menampakkan hal sebaliknya.
Ratusan wartawan, bahkan yang yang tidak intens melakukan tugas-tugas jurnalistiknya dilingkungan peradilan, pun seperti terbelalak, setelah mengetahui pangkal permasalahan yang kemudian memicu kekisruhan itu, dan menyatakan dukungannya untuk menolak pembentukan forum intelektual secara sepihak itu dan mengadakan rapat terbatas untuk membahas hal itu di gedung BISKOM Jakarta, Sabtu (27/5/2023).
Tak henti disitu, mereka juga melayangkan surat hasil rapat terbatas dan penolakan kepada Ketua MA Prof. HM Syarifuddin serta meminta sikap resmi MA atas penetapan kepengurusan Forwama yang dilakukan secara tidak demokratis dengan menggunakan logo MA secara utuh, Selasa (6/6/2023).

Beberapa wartawan dilingkungan MA berspekulasi, ada rasa cemas mendalam dibathin oknum itu, jika pengangkatan ketua Forum Wartawan lingkungan Mahkamah Agung (Forwama) dilakukan melalui pemilihan terbuka, dirinya tak akan terpilih atau ada hal berkaitan dengan perkara dilingkungan MA yang mesti segera dieksekusi dengan mengatasnamakan wartawan dan Forwama sebagai benderanya.
Pemimpin redaksi sinar-berita.com Richard Aritonang, sekaligus sosok yang paling keras menolak pengukuhan Forwama versi tak demokratis itu menyikapi, bahwasanya sejak awal dirinya menunjuk Jimmy Endey sebagai ketua panitia pembentukan kepengurusan Forwama, adalah untuk membentuk jajaran kepanitiaan dan membuat program kerja pemilihan ketua Forwama secara demokratis, terbuka dan melibatkan wartawan secara keseluruhan.
“Adanya wacana pembentukan kepengurusan Forwama itu merupakan inisiasi teman-teman yang diwakili seorang teman pemilik majalah BISKOM Soegiharto Santoso yang mengungkapkan hal itu kepada Ketua MA Prof. HM Syarifuddin dalam sebuah perhelatan akbar lingkungan Mahkamah Agung RI awal Januari 2023 lalu dan beroleh tanggapan positif dari ketua MA,” kata Richard membeberkan.
Dalam pertemuan berikutnya dengan Kepala Biro Humas MA Dr Sobandi pertengahan April 2023, lanjut Richard, Soegiharto Santoso kembali mengajukan keinginan sebagian besar wartawan lingkungan MA, membentuk suatu forum kerja secara resmi guna menghindari simpang-siur informasi terkait aktifitas kerja dilingkungan MA.
“Itu juga beroleh tanggapan positif dari pak Sobandi Karo Humas MA yang menyarankan agar proses pembentukannya dilakukan secara demokratis, terbuka dan melibatkan seluruh wartawan yang ada. Dan itu saya tekankan kepada saudara Jimmy ketika merekomendasikan dia menjadi ketua panitia pembentukan pengurus forum benama Forwama-RI,” jelas Richard.

Namun, kata Richard melanjutkan, dalam pertemuan di sebuah hotel murah yang diinisiasi oleh Emil tanggal 5 Mei 2023, yang dihadiri tidak lebih dari 10 orang wartawan serta diwarnai hujan deras, Emil mengungkapkan keinginannya yang menggebu menjadi ketua, bahkan bersedia membuat pernyataan diatas meterai untuk satu periode saja. Richard juga menggambarkan kekhawatiran yang bersangkutan tidak menang jika preoses pelantikan ketua Forwama dilakukan melalui pemilihan secara demokratis dan terbuka.
Audiensi Ke Ketua MA
Adanya rencana kelompok mengatasnamakan Forwama-RI ini akan melakukan audiensi dengan Ketua MA Prof. HM. Syarifuddin dan Juru Bicara MA Suharto serta mengadakan seminar, Richard Aritonang menanggapi dengan datar.
Kepada seorang awak media yang mengkofirmasi dirinya melalui telepon whatsapp tentang adanya rencana tim yang mengatasnamakan Forwama melakukan audiensi kepada KMA Prof HM Syarifuddin dan Jubir MA Suharto, Richard menjelaskan bahwasanya Mahkamah Agung itu dihuni oleh orang-orang terdidik dibidangnya dan tentu juga membaca berita-berita kekisruhan akibat pembentukan forum ‘kelompok’ itu.
“Saya melempar pertanyaan ilustrasi kepada kita sebagai jurnalis yang diberi julukan misi pencerdasan kehidupan bangsa dan salahsatu pilar demokrasi, apakah kita akan mendukung dan mau membaurkan diri dalam suatu kegiatan berpotensi memutar seratus delapan puluh derajat stigma julukan yang disandangkan kepada kita?” jawabnya balik bertanya.

Terkait tudingan adanya interest dari seseorang jurnalis yang memiliki perkara di MA, dan ingin memanfaatkan posisi sebagai ketua forum yang akan dibentuk sebelumnya, dengan tegas Richard membantah tudingan itu..
“Itu bukan alasan! MA memiliki SEMA yang kalau saya tidak salah, diterbitkan di era ketua MA dijabat oleh Bagir Manan kira-kira isinya, melarang pihak-pihak berperkara di peradilan bertemu hakim yang menangani perkaranya, tanpa didampingi panitera. Yang terjadi dalam hal ini adalah, masuknya oknum oportunis kedalam bursa pembentukan kepengurusan Forwama, dan berhasil ‘mencurinya’ dengan disaksikan mata orang banyak,” tegas Richard.
Forum Wartawan lingkungan Mahkamah Agung Republik Indonesia (FORWAMA-RI) dideklarasikan oleh Richard Aritonang bersama teman-teman seprofesi sekitar tahun 2017, yang dimotori oleh keprihatinan atas berita simpang-siur yang dimuat media tentang oknum-oknum hakim terjerat hukum dilingkungan MA. Deklarasi itu direstui langsung oleh Ketua MA Prof. Hatta Ali dan pejabat tinggi lingkungan MA ketika itu.
Namun sejauh itu, pembentukan kepengurusan resmi komunitas para kuli informasi ini terkesan berjalan ditempat oleh kesibukan masing-masing. Dan selama itu, para wartawan lingkungan MA (dan peradilan-peradilan di seluruh Indonesia), kerap mendengar adanya desas-desus oknum wartawan yang meng-klaim diri sebagai ketua Forwama, untuk kepentingan yang tidak jelas.*
Edited By: Tjie Hanna Susanti







