SINAR-BERITA.com – Kitab Suci mengatakan, tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.
Iwan Sunito (referensi buku bacaan Without Borders) merupakan pengusaha yang lahir di Surabaya. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangkalan Bun, Kalimantan.
Siapa sangka pria yang dulu punya julukan si Anak Sungai dari Pangkalan Bun ini sering tak naik kelas. Saat itu baginya mendapat nilai 5 atau 6 sudah termasuk beruntung.
Bisa dibilang sekolahnya saat itu berantakan. Dia juga mengaku punya keterbatasan dalam bahasa Inggris.
Meski sering tak naik kelas, Iwan memiliki kelebihan menggambar. Kemampuan inilah yang kemudian mengantar Iwan mendirikan International Holdings Group pada tahun 1996 bersama rekan bisnisnya Paul Sathio.
Perusahan ini merupakan perusahaan properti raksasa yang berbasis di Sydney, Australia.
Iwan merantau ke Australia sejak remaja. Mengingat masa-masa sekolahnya yang berantakan, Iwan bertekad mengubah nasib di Australia.
Di Australia ia pun mendapatkan gelar sarjana di teknik arsitektur dan gelar master di Construction Management, University of New South Wales.
Di tengah kesibukan kuliah, Iwan juga menyempatkan diri untuk menggarap proyek. Baginya saat itu proyek kecil juga tak apa, tak dibayar pun ia mau. Ia sadar betul kalau yang terpenting adalah mendapatkan pengalaman daripada sekadar masuk ruang kelas dan hanya mendengar teori.
Ia pun mencoba mengambil lompatan sendiri dengan langsung mencoba menggarap proyek kecil-kecilan terlebih dahulu. Berkat hal kecil itulah ia bisa sukses.
Setelah lulus dari teknik arsitektur, Iwan sempat bekerja dengan salah satu perusahaan arsitek terkenal di Australia selama enam bulan. Pekerjaan utamanya saat itu menggambar.
Namun, karena merasa tak bisa berdedikasi ia akhirnya memutuskan untuk mengambil gelar master.
Tahun 1994 ia membangun bisnis pertamanya. Baru dua tahun setelahnya, ia membangun Crown International Holdings Group, salah satu raksasa property di Australia.
Saudaraku, apabila kita hanya memperhatikan situasi kita sekarang ini, sangat mudah bagi kita untuk memberikan respon sama seperti Abraham berpikir bahwa hambanya Eliezerlah yang akan menjadi ahli warisnya pada waktu Tuhan memberikan janji tentang keturunannya.
Atau seperti Musa yang merasa tidak fasih lidah dan meminta orang lain sebagai juru bicara menghadap Firaun pada waktu Tuhan memanggilnya menjadi pemimpin bangsa Israel keluar dari Mesir.
Ini manusiawi sekali karena pandangan visi kita sangat terbatas dan apalagi kondisi tidak mendukung untuk sesuatu yang besar terjadi.
Karena kita saat ini berada dalam kondisi keuangan yang serba kurang, kita berpikir selamanya akan menjadi orang miskin. Karena kita selama ini menderita penyakit yang belum sembuh, kita berpikir selamanya akan menderita penyakit tersebut.
Karena kita selama ini belum punya rumah maka kita berpikir bahwa selamanya akan menjadi ‘kontraktor’ (terus mengontrak) tanpa punya harapan memiliki rumah sendiri.
Karena keluarga kita berantakan kita berpikir selamanya keluarga kita akan selamanya berantakan.
Namun Firman Tuhan yang menjadi rhema hari ini menjelaskan bahwa kita adalah bangsa yang terpilih supaya kita memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Tuhan.
Maka, berhentilah berpikir sesuai dengan keadaan kita saat ini. Mintalah kepada Tuhan untuk membuka pikiran saudara sehingga saudara bisa memahami rencana Tuhan yang sangat besar bagi hidup saudara.
Berhentilah hidup dalam keterbatasan! Lalu mulailah melangkah. Petrus tidak akan berjalan di atas air bila dia tidak melangkah keluar perahu.
Janda di Sarfat tidak akan mengalami kelimpahan tepung dan minyak bila dia tidak taat yang disuruhkan Elia.
Saudaraku, memang kita terbatas, tetapi kita punya Tuhan yang tidak terbatas yang mampu membuat hidup kita menjadi tidak terbatas.(vmc/gkkd/red)







