Jakarta, sinar–berita.com|sebelumnya persaingan berfokus pada tenaga mesin, efisiensi, atau desain kendaraan, kini kemampuan kendaraan mengenali risiko dan membantu mencegah kecelakaan mulai jadi faktor pembeda. Pergeseran ini menjadi salah satu pesan utama yang mengemuka pada GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026. Hal disampaikan open Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat membuka GIIAS 2026, Kamis (6/8/2026).
Menurutnya, keputusan investasi, teknologi, dan pendalaman industri yang diambil saat ini akan menentukan wajah industri otomotif nasional pada 2035.
GIIAS 2026 yang melabel the mall, ‘Eye of the Future’, menempatkan inovasi kendaraan sebagai penggerak utama masa depan mobilitas. Kemajuan kendaraan tidak lagi hanya diukur dari kecanggihan teknologinya, tetapi juga dari kemampuannya membantu melindungi pengemudi dan pengguna jalan.
Ardhana Wiranata, Vice Compartment Future Automotive Technology & Renewable Energy GAIKINDO Ardhana Wiranata mengatakan, perkembangan industri otomotif kini tidak lagi hanya diukur dari peningkatan performa dan efisiensi kendaraan.
Menurutnya, kemampuan kendaraan untuk membantu mengurangi risiko kecelakaan akan menjadi ukuran penting dalam perkembangan industri ke depan.
“Perkembangan teknologi terus mendorong budaya berkendara yang semakin aman, nyaman, dan efisien. Karena itu, tantangan industri ke depan bukan hanya menghadirkan teknologi yang semakin canggih, tetapi juga memastikan manfaatnya dapat dipahami dan dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat,” ujarnya.
Gambaran mengenai perkembangan tersebut ditampilkan melalui Booth Safety & Advanced Technology GAIKINDO bersama Bosch Indonesia.
Di area ini, pengunjung dapat melihat bagaimana berbagai teknologi keselamatan bekerja sebagai satu sistem untuk membantu pengemudi mengenali risiko dan merespons situasi berbahaya.
Risiko di jalan muncul dalam hitungan detik. Kendaraan di depan dapat mengerem mendadak, pejalan kaki tiba-tiba menyeberang, atau sepeda motor muncul dari titik buta.
Director of Mobility Solution Bosch Indonesia Bernard Simanjuntak mengemukakan, perkembangan teknologi keselamatan bukan lagi sekadar tentang menambah fitur pada kendaraan.
“Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi dapat memberikan dukungan yang tepat pada situasi yang tepat, terutama ketika kondisi berkendara dan interaksi antar pengguna jalan semakin kompleks,” ujarnya.
Bosch Indonesia menjelaskan proses tersebut melalui tiga tahapan yang saling terhubung: Sense, Think, dan Act.

Sense atau Mata Tambahan Kendaraan
Pandangan pengemudi tidak selalu mampu menjangkau seluruh area di sekitar kendaraan. Dalam kondisi ini, Multi-Purpose Camera membantu mengenali marka dan pengguna jalan lain, radar sensor mengukur jarak serta kecepatan objek, sementara Ultrasonic Sensor mendeteksi benda dalam jarak dekat. Ketiganya bekerja layaknya ”mata” tambahan yang terus membaca lingkungan sekitar.
Think atau Otak Yang Membaca Risiko
Setelah berbagai sensor mengenali kondisi di sekitar kendaraan, informasi dari berbagai sensor kemudian diolah oleh sistem komputasi. Perangkat lunak menganalisis perubahan situasi, memperkirakan potensi risiko, dan menentukan apakah diperlukan respons tertentu.
Dalam hitungan milidetik, sistem komputasi mengolah seluruh informasi tersebut untuk memahami kondisi di sekitar kendaraan sebelum menentukan respons yang diperlukan.
Act atau Refleksi Saat Waktu Ternatas
Ketika risiko tabrakan meningkat, waktu pengemudi untuk bereaksi semakin sempit. Integrated Power Brake membantu menghasilkan respons pengereman yang cepat dan presisi untuk mengurangi kecepatan atau dampak benturan. Fungsinya menyerupai ”refleks” tambahan, tanpa menggantikan kendali pengemudi. arto







