sinar–berita.com | Aku terkesiap disaat bukan waktuku bangun. Seperti biasa, aku ingat diriku dan menyapa TUHAN mengapa aku terbangun disela biasanya aku mulai bangun disetiap tidurku, biasanya pukul 08.30 an. Itu yang aku lakukan disetiap aku terbangun dini hari.
Kali ini otakku langsung kearah kebijakan presiden RI terbaru. Aku suka kata-katanya bahkan yang disuarakannya setelah dia dilantik, tak berubah dari kampanye dirinya dua kali dikalahkan oleh Jokowi, meski pada periode ke dua Jokowi jadi presiden, Prabowo mulai sedikit ‘melunak’ dari dua kali kampanye, Prabowo terkesan masih sedikit ‘sombong’ dalam ujarannya.
Pada periode ke dua dia dikalahkan oleh Jokowi dan diminta jadi menteri pertahanan, ia nampak melunak dan seperi turut, “ya, saya diminta oleh bapak presiden untuk ikut serta membantu beliau untuk bangun Indonesia, ya, kenapa tidak?,’ ujar Prabowo ketika itu.
Namun, kulihat dan kudengar serta kusaksikan, banyak juga kebijakan baru dan keadaan baru yang masih beraroma ‘oligarki’ dimana kata-kata dan pemeo “demi rakyat” hanya tinggal pemeo yang seperti meninabobokan aku dan sebagian besar rakyat yang sedang ada bersamaku saat ini.
Yang kulihat pupus meski tak padam adalah ‘pedagang agama’ agak redup kendati sorot matanya masih mengisyaratkan kekejian yang tetap keji, hanya saja suara toa mereka agak dikecilkan. Mungkin juga karena masyarakat Indonesia sudah mulai tak ragu mengeluarkan kecerdasan hakikinya secara historis dan real.
Aku terduduk diatas matras kamarku. Kuingat kedua anakku Rian dan Rio. Kuingat sulungku Rian yang telah menambah kasih dalam hidupku setelah dia menikah dan dikaruniakan putri yang adalah cucu sulungku, sekaligus gelar terindah dalam hidupku sebagai etnis Batak. Aku sekarang memiliki gelar diluar gelar akademis yang sempat kuraih yaitu, Opung Naira Elisa Aritonang. Terpujilah Engkau Allah yang maha Agung didalam Tuhan kami Yesus Kristus, bathinku.
Kudengar taburan hujan diluar rumah, sesekali geluduk penanda hujan akan usai, kulirik isteriku dengan gulingnya yang tampak pulas. Aku tak ingin mengusik pulasnya. Banyak dimasalalu aku membuat dia terusik. Kali ini, aku ingin dia pulas dengan tidurnya.
Aku kembali ke awal saat aku terbangun. Jarang aku terbangun dilingkaran at three a chlock in the morning. Namun, aku berfikir, koq, Prabowo Subianto yang menang telak pada Pilpres 2024 menuai demo, ‘Indonesia Gelap?’,:dan janji “Untuk Rakyat”, dimulai dengan ‘kebalikan?’
Klasemen Keburukan aku petik dari medsos yang pastilah merupakan ungkapan yang tidak kosong. Sebagai orang berumur dan peduli kepada sesama tanah tumpah darah Indonesia, aku mesti bersuara.
Oh, Tuhan, memang belakangan ini aku tidak dengar lagi koar-koar ‘sampah’ penjual keyakinan. Mereka seakan redup. Tetapi yang aku khawatirkan ternyata lebih luas dari itu, sinar OLIGARKI yang tampaknya lebih Busuk, membuat aku mau muntah
“Asholahar., Asholaah tuh Khoirun minnan nahum,” suara di Masjid bergema.
Aku memilih lanjutkan tidur. Kulirik segelas minumanku masih mejeng di atas meja belajarku. Aku meneguknya dan menghisap sebatang rokok disebelah gelas minumku. Kulirik isteriku yang pulas dengan mulutnya menganga dan ngorok. Aku berdoa untuknya, teman hidupku terkasih. Aku lanjut. Arto







